Lima Fase Menuju Kemurtadan

Banyak di antara kita mungkin bertanya, "Kenapa ya ada muslim yang bisa murtad?" Sebenarnya perkara ini mudah dijawab dengan sederhana, "Ya, itulah mahalnya hidayah." Itu kenapa kita selalu diperintahkan untuk berdoa meminta hidayah kepada Allah.

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ

“Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah Al-Huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah As-Sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Al-Bazzar - shahih)

Petunjuk (hidayah) itu bukan hanya dicari, tapi juga dipinta melalui doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ

"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran." (HR. Muslim)

Namun, sebenarnya hidayah itu tanpa dipinta pun Allah subhanahu wa ta'ala sudah menghadirkannya di hadapan kita, yang itu disebut hidayatul 'aam (hidayah yang umum). Seperti hidayah yang hadir dalam keseharian kita, bahkan di tempat mana pun kita berada. Misalnya, saat kita mendengar lantunan azan, itu hidayah yang Allah antarkan melalui telinga kita. Kemudian, kita melihat orang-orang bepergian ke masjid untuk mengerjakan salat, bahkan kita yang sedang terbiasa dengan media sosial pun tak lepas dari hidayah. Setiap media sosial mengandung hidayah, selalu muncul potongan kajian/tausiyah dari tokoh-tokoh agama. Namun, kemauan kita untuk memenuhi "panggilan" hidayah itu belum ada. Maka, sebenarnya di tengah arus informasi yang deras, tidak ada lagi yang bisa mengelak dengan mengatakan, "Aku belum diberi hidayah oleh Allah."

Maka, yang demikian itu bukan suatu yang mustahil bila membiarkan diri dalam kelalaian akan membuat orang jatuh ke dalam kefasikan, lama-kelamaan terbukalah pintu kekafiran. Wal 'iyadzubillah. Maka, untuk mengantisipasi fitnah besar (murtad) itu masuk ke dalam hidup kita, penting bagi kita mengetahui sisi lain yang menjadi penyebab murtadnya seorang Muslim dari Islam.

1. Pengikut aliran sesat

Banyak di antara kaum muslimin ketika ingin mendalami agama, justru terjerumus ke dalam aliran-aliran yang menyimpang, seperti mengikuti tarekat-tarekat yang ternyata di dalamnya penuh kesesatan. Munculnya keyakinan bahwa syariat salat tidak perlu dikerjakan bagi jiwa-jiwa yang sudah sampai pada titik ma'rifatullah. Kemudian beranggapan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam adalah wujud Allah di muka bumi.

Orang-orang seperti ini, sekali pun mereka tidak secara jelas mengatakan murtad dari Islam, hakikatnya mereka telah keluar dari Islam karena adanya keyakinan seperti di atas. Maka, waspadalah bila kita sedang mengikuti suatu kegiatan keislaman, namun isinya jauh dari ilmiah, dilakukan di tengah malam, di tempat yang tertutup.

2. Tarkus shalah (ترك الصلاة)

Penyebab kemurtadan selanjutnya ini akan menimpa orang-orang yang terbiasa melalaikan bahkan meninggalkan salat terus-menerus dan dengan sengaja. Ini termasuk sebab paling berbahaya. Salat adalah tiang agama; ketika ia ditinggalkan, maka runtuhlah penyangga utama keimanan seorang muslim. Dari sinilah awal hidayah diangkat oleh Allah subhanahu wa ta'ala, hingga pada akhirnya iman dan Islam seseorang bisa tercabut.

Salat ini adalah identitas seorang muslim, pembeda seorang muslim dengan orang-orang kafir dan musyrik dilihat pada salatnya. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

“Perbedaan antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim)

Kita bisa menyaksikan di berbagai video kesaksian para murtadin, ketika ditanya bacaan seputar salat, hampir semua tidak tahu, dan tidak benar. Artinya, memang selama menjadi muslim, dia sering melalaikan bahkan meninggalkan salat. Maka, waspadalah bagi kita yang saat ini menjadi orang yang sering melalaikan dan meninggalkan salat.

3. Tenggelam dalam kemaksiatan

Di antara penyebab ketiga seorang muslim menjadi murtad adalah karena kebiasaan bermaksiat secara terus-menerus, dengan sengaja, dan tak ada rasa gelisah serta penyesalan atas dosa maksiat yang diperbuat. Dosa yang dilakukan berulang kali dampaknya akan mengeraskan hati. Akibatnya, hidayah yang tersaji di depan mata, didengar oleh telinga seperti angin lalu. Ketika akhirnya muncul keinginan untuk bertobat, justru yang masuk adalah bisikan-bisikan setan yang menimbulkan keraguan: apakah Allah akan mengampuni atau tidak. Keraguan ini kemudian berubah menjadi keputusasaan dari rahmat Allah, hingga pada akhirnya seseorang bisa memilih keluar dari Islam, ibarat kata, "Terlanjur basah, mandi sekalian." Padahal dengan segala rahmat-Nya, Allah sudah menyampaikan di dalam firman-Nya:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Maka, bahaya terbesar dari maksiat bukan hanya dosanya, tetapi efek jangka panjangnya terhadap hati dan keyakinan kepada Allah.

Di antara kisah seorang 'aalim yang murtad karena kemaksiatannya bisa kita jadikan pelajaran. Bahwa kemurtadan bisa juga menimpa ahli ilmu ketika dia tenggelam dalam kemaksiatan, seperti Bal'am bin Baura (Barshisha, maksiat karena mencoba khamr, berujung zina, dan membunuh), Jabalah bin Al-Aiham (maksiat berupa kesombongan), terbaru yang wafat tahun 1996 (maksiat berupa kesombongan intelektual, dan kebiasaannya mencela Islam dan kaum muslimin setelah beliau berkesempatan mendatangi Eropa setelah lama di Saudi).

4. Meninggalkan majelis ilmu

Islam adalah agama yang menjadikan ilmu sebagai pupuk dari keimanan. Maka, menuntut ilmu adalah salah satu pokok ajaran Islam. Bahkan bila kita kembali kepada wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam, yakni surat Al-'Alaq ayat 1–5, di mana ayat pertama berisi kalimat perintah untuk membaca, dilanjut pada ayat ketiga juga berisi perintah untuk membaca. Ini pertanda ilmu agama memiliki tempat yang penting di dalam Islam.

Penulis tidak sedang ingin membangun dikotomi Ilmu Pengetahuan Umum dan Ilmu Pengetahuan Agama, secara pribadi kami menganggap keduanya penting. Namun, di dalam Islam ada kaidah fiqhul awlawiyyat (fikih prioritas) dan al-aham fal-aham (yang paling penting didahulukan baru yang penting lainnya). Secara hukum fikih, menuntut ilmu pengetahuan umum (sains-tekno) adalah fardhu kifayah, yang kewajibannya gugur bila sudah ada yang memiliki kemampuan melakukannya. Sedangkan, ilmu agama ini hukumnya fardhu 'ain, menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajarinya sebagai pondasi teologinya.

Bila kaum muslimin menjauhi ilmu agama, dia fokus pada ilmu pengetahuan umum, maka banyak yang kemudian tersambar syubhat, di mana menganggap agama tidak penting, agama bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains-tekno), bahkan yang tenggelam dalam mempelajari filsafat menganggap agama tidak memberi tempat pada logika. Akhirnya apa yang terjadi? Murtadlah mereka, ada yang menjadi ateis, ada juga yang menjadi agnostik. Ditambah lagi tidak mampu memenej emosi ketika menghadapi tokoh-tokoh agama yang melakukan perbuatan asusila.

Maka, peran ilmu agama sangat penting agar kita bisa melihat segala sesuatu dengan landasan iman. Iman itu tidak bertentangan dengan akal sama sekali. Buktinya, di dalam Islam, syariat agama ini hanya berlaku bagi orang-orang yang berakal.

5. Kaum problematik

Penyebab kelima seseorang bisa jatuh ke dalam jurang kemurtadan adalah orang-orang yang memiliki kepribadian problematik. Problematik dari sisi mental, spiritual, dan yang paling besar penyebab murtadnya seorang muslim adalah mereka yang berada di fase problematik dari sisi finansial. Ketiganya saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Tekanan mental, kekosongan spiritual, serta kesulitan ekonomi dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh setan untuk menggoyahkan iman seseorang. Tidak sedikit orang yang tergelincir karena tidak mampu menghadapi ujian dari tiga sisi ini secara seimbang.

Oleh karena itu, ketika seorang Muslim yang merasa berada dalam salah satu kondisi tersebut, hendaknya ia segera kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala, memperbaiki diri, dan memperkuat keimanan. Jangan menunda dalam ibadah dan menuntut ilmu, karena hati dan pikiran yang dibiarkan tanpa penjagaan iman akan semakin mudah terseret.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…” (QS. Āli ‘Imrān: 133)

Dari rangkaian penjelasan di atas, sudah jelas harus menjadi catatan buat kita bahwa kemurtadan bukanlah peristiwa instan, melainkan hasil sebab-sebab yang dibiarkan tanpa perbaikan. Oleh karena itu, agar terhindar dari kemurtadan, penting bagi kita untuk menjaga iman dengan kembali memenuhi majelis ilmu, mencari lingkungan yang baik, bermujahadah untuk konsisten dalam beribadah, serta bersabar dalam menghadapi ujian yang datangnya sering tiba-tiba. Semoga Allah menjaga kita semua dari sebab-sebab yang dapat merusak iman dan menetapkan hati kita di atas agama-Nya hingga akhir hayat.

Posting Komentar

0 Komentar