Tokoh Utama Madzhab Hanafi
Tokoh utama di sini
bisa dikatakan mereka yang statusnya adalah murid langsung dari Imam Abu
Hanifah, di antara yang masyhur adalah tokoh-tokoh berikut:
1.
Zufar bin Al Hudzail
(732-774)
Zufar bin Al Hudzail
merupakan salah satu murid utama Imam Abu Hanifah yang dikenal memiliki
keteguhan prinsip sebagaimana gurunya. Ia menolak berbagai tawaran jabatan
sebagai qadhi (hakim), meskipun posisi tersebut sangat prestisius pada masanya.
Zufar lebih memilih
untuk mengabdikan dirinya dalam bidang keilmuan, khususnya pengajaran fikih, sampai
akhir hayatnya. Ia wafat dalam usia yang cukup muda, sekitar 42 tahun, di
Basrah, Irak.
2.
Abu Yusuf Ya’qub bin
Ibrahim (735-795)
Abu Yusuf lahir
dalam keluarga miskin di Kufah. Beliau belajar hadits secara mendalam sampai
beliau menjadi ulama hadits yang mapan, kemudian belajar fikih di Kufah selama
sembilan tahun di bawah Imam Muhammad bin Abdurrahman Ibn Abu Laila (wafat
765), putra dari seorang kibaarut tabi’in di Madinah yang kemudian
pindah ke Kufah karena ditunjuk sebagai Qadhi, seorang mukhadhram[1]
yang tsiqah (terpercaya). Abu Yusuf kemudian belajar kepada Imam Abu
Hanifah selama sembilan tahun, dan ketika Imam Abu Hanifah wafat, beliau pergi
ke Madinah untuk belajar dalam waktu yang singkat bersama Imam Malik.
Abu Yusuf kemudian ditunjuk sebagai hakim kepala (Qadhi Al Qudhat[2]) oleh dua pemimpin Bani Abbasiyah, yakni Khalifah Abbasiyah ketiga Muhammad bin Abdullah Al Manshur (Al Mahdi), dan Khalifah Abbasiyah kelima Harun bin Muhammad Al Mahdi (Harun Al Rasyid). Dalam kapasitasnya sebagai hakim tertinggi, beliau terbiasa memilih hakim-hakim wilayah dari kalangan madzhab Hanafi. Sehingga dalam hal ini beliau memiliki peran besar dan penting dalam penyebaran madzhab Hanafi di seluruh wilayah Islam[3].
3.
Muhammad bin Al Hassan
Asy Syaibani (749-805)
Muhammad bin Al Hassan
Asy Syaibani dilahirkan di kota Wasith, Irak. Tetapi tumbuh besar di Kufah.
Seperti Abu Yusuf, pendidikan awalnya adalah ilmu hadits. Beliau belajar kepada
Imam Abu Hanifah sampai Imam Abu Hanifah wafat. Muhammad bin Al Hassan ini yang terbaik dalam penulisan dan paling tekun
dalam pengajaran. Dikisahkan bahwa selain belajar fikih dan hadits kepada Imam
Abu Hanifah, dia juga belajar dengan murid senior Imam Abu Hanifah yakni Abu
Yusuf, setelah itu pergi ke Madinah dan membaca Al Muwaṭhṭha’ kepada
Malik ibn Anas (Imam Malik) . Kemudian ia kembali ke negerinya, lalu
mencocokkan madzhab para gurunya dengan Al Muwaṭhṭha’, masalah demi
masalah.[4]
Jika sesuai, maka ia mengambilnya. Jika tidak, tetapi ia melihat
sekelompok sahabat dan tabi'in berada di atas madzhab para gurunya, maka ia
tetap berpegang padanya. Namun jika ia mendapati qiyas yang lemah atau
takhrij yang lemah bertentangan dengan hadits shahih yang diamalkan para fuqaha,
atau bertentangan dengan amalan mayoritas ulama, maka ia meninggalkannya menuju
salah satu madzhab salaf yang menurutnya lebih kuat.
Keduanya, yakni Abu Yusuf dan Muhammad, senantiasa berada di atas jalan
Ibrahim An Nakha'i selama memungkinkan, sebagaimana Imam Abu Hanifah juga
melakukan hal itu. Perbedaan di antara mereka hanya terjadi pada salah satu
dari dua hal:
Pertama, bisa jadi guru mereka memiliki suatu takhrij atas madzhab
Ibrahim An Nakha'i[5],
lalu mereka berbeda dengannya dalam takhrij itu.
Kedua, bisa jadi terdapat beberapa pendapat berbeda dari Ibrahim dan
para sejawatnya, lalu mereka menyelisihi guru mereka dalam mentarjih salah
satunya atas yang lain.
Kemudian Muhammad bin Al Hassan menulis dan menghimpun pendapat tiga
tokoh ini, sehingga banyak manusia mendapat manfaat. Maka para pengikut Imam
Abu Hanifah pun menaruh perhatian pada karya-karya itu, baik dengan meringkas,
memudahkan, men-syarah, melakukan takhrij, membangun kaidah, maupun
beristidlal dengannya. Lalu mereka menyebar ke Khurasan dan negeri seberang,
sehingga itulah yang disebut sebagai madzhab Imam Abu Hanifah.
Kedua murid Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf dan Muhammad bin Al Hassan
ini dihitung sebagai bagian dari Madzhab Imam Abu Hanifah, meskipun keduanya
mujtahid mutlak dan tidak sedikit berbeda dengan Imam Abu Hanifah dalam usul
maupun furu‘, tapi karena ke-tawadhu’-an mereka, mereka tetap
memposisikan diri sebagai bagian dari madzhab Hanafi[6].
Di dalam sejarah juga tercatat bahwa Muhammad bin Al Hassan juga sempat menjadi
salah satu guru Muhammad bin Idris[7]
(Imam Syafi’i).
Pengikut Madzhab Hanafi (Hanafiyah)
Hanafiyah adalah julukan dari pengikut Imam Abu Hanifah, madzhab Hanafi
bukanlah suatu madzhab yang dideklarasikan oleh Imam Abu Hanifah, melainkan nisbat
yang dibangun oleh para pengikutnya bahwa dalam satu konsep mereka dominan
mengikuti pendekatan yang dibangun oleh Imam Abu Hanifah.
Para pengikut madzhab Hanafi saat ini banyak terdapat di wilayah India,
Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Turki, Guyana, Trinidad dan Tobago, serta
beberapa wilayah Mesir. Madzhab Hanafi tumbuh subur pada masa Dinasti Umayyah,
Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Hal ini menyebabkan para ulama terdahulu yang
ingin menjadi qadhi mewajibkan diri mereka untuk mempelajari madzhab Hanafi.
Hasilnya, madzhab Hanafi tersebar luas di berbagai negeri Muslim yang berada di
bawah kekuasaan Dinasti Utsmaniyah hingga abad ke-19.
[1] Mukhadhram Adalah status seseorang yang hidup di dua zaman,
zaman jahiliyah (pra-islam), lalu masuk Islam di zaman Rasulullah, namun tidak
pernah bertemu dengan Rasulullah hingga wafatnya dan mendapat julukan Kibaarut
Tabi’in (Tabi’in Senior). (Siyar A'lam al-Nubala', jld. 2, hlm. 289, cat. kaki
no. 3.)
[2] Al Inshaf fii
bayani asbabil ikhtilaf liddahlawi, hal. 39
[3] idem
[4] idem
[5] idem
[6] idem, hal. 40
[7] Idem, hal. 41

0 Komentar