Urgensi Penguasaan Filsafat bagi Da’i

    

       Di era derasnya arus informasi saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi para da’i dan pendidik Islam di tengah kondisi umat yang semakin kompleks. Di mana umat saat ini kebanyakan mengalami krisis aqidah, akibat dari pendidikan tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi porsi pelajaran umum jauh lebih besar daripada ilmu agama. Akibatnya, pemikiran mereka sering kali telah “terisi” oleh apa yang disebut sebagai “sampah-sampah filosofis” yang ateistik dan agnostik. Maka dari itu tanpa pengetahuan filsafat, seorang pendidik akan kesulitan mengidentifikasi dan membersihkan keraguan intelektual tersebut dari jiwa objek dakwahnya, khususnya dari kalangan Gen-Z dan Alpha berikutnya.

    Penguasaan filsafat sangat penting untuk menjaga marwah dan kredibilitas da’i di mata generasi Z dan Alpha. Beberapa objek dakwah di zaman in cenderung tanpa sadar meremehkan atau mencemooh guru agama yang dianggap left behind (out of date) karena tidak memahami pendekatan-pendekatakn filosofis. Sebaliknya, respek mereka akan tumbuh ketika melihat guru mereka mampu mengkritik pemahaman mereka secara mendalam dan filosofis pula. Maka kemampuan seperti ini akan menjadi kunci untuk mengubah persepsi negatif  menjadi potensi dakwah yang besar di masa depan.

    Kita harus sadar bahwa keadaan zaman ini semakin maju, arus informasi dan syubhat begitu mudah masuk ke telingan dan pikiran umat dekat pendekatan yang kreatif dari para penebar sampah-sampah filsafat. Maka penting bagi para da’i memiliki kemampuan untuk mendebat kesesatan berpikir melalui argumentasi rasional yang digali dari Al-Quran, Sunnah, serta khazanah intelektual ulama salafus shalih. Dengan kemampuan ini, pada da’i tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menyerang balik logika-logika yang menyimpang.

    Di tengah pesatnya pertumbuhan religious disbelief (atheist-agnostik) di dunia timur apalagi barat, maka pendekatan rasional itu sangat penting. Salah satu penyebab utama generasi mudah saat ini memutuskan menjadi seorang ateis dikarenakan kegagalan rasionalisasi atas kepercayaan (faith), belum lagi ditambah moralitas umat beragama yang mengalami degradasi, apalagi ketika pelakunya itu sendiri adalah tokoh agama. Di sinilah kemudian para da’i harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan dengan bukti yang nyata bahwa Islam secara prinsip adalah agama yang menyeimbangkan iman dan akal, sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam menjalankan syariat diwajibkan bagi orang yang sudah Aqil (berakal) untuk seorang mukallaf. Oleh karena itu, menggunakan pendekatan rasional-filosofis (bir-ra’yi) dalam pengajaran agama adalah hal yang sepantasnya agar generasi muda tidak merasa skeptis terhadap agamanya sendiri saat berhadapan dengan epistemologi saintis.

    Sampah-sampah filsafat sebenarnya mudah dibantah, karena para pembelajar filsafat juga sebenarnya banyak di antara mereka hanyalah kumpulan-kumpulan penghafal dan yang memahami filsafat secara taken for granted (hanya menerima namun mati daya kritisnya). Sehingga mereka sebenarnya juga adalah orang-orang yang terjebak di dalam kejumudan berpikir namun karena ini filsafat seakan ia terlihat keren dan modern. Maka seorang muslim yang mempelajari filsafat tentunya harus memiliki kemampuan analisis yang ketat, kritik tajam, sehingga tercapai kemampuan menciptakan alternatif filosofis yang lebih baik (tidak menyesatkan).

    Generasi Atsariyah yang memiliki kemampuan ini adalah Ibnu Taimiyah rahimahullah, di mana kemampuan beliau dalam membantah filsafat bukan hanya berangkat dari sikap dogmatis (asal melarang/mengharamkan), tapi beliau mampu masuk ke dalam “mesin” filsafat, mengkombinasikan naql (dalil agama) dan aql (akal) sehingga terciptalah karya beliau yang luar biasa untuk membantah Mu’tazilah dan Musyabbihah, yakni Al ‘Aqidah Al Washithiyah.

    Kemampuan rasionalisasi inilah yang akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa beliau adalah satu di antara filsuf muslim, kebencian beliau pada filsafat hanya karena penyimpangan yang diderita para filsuf di zamannya. Karena pada faktanya kemampuan beliau dalam membangun keseimbangan antara naql (dalil agama) dan aql (akal) adalah bentuk "filsafat” itu sendiri, bisa dikatakan “filsafat Islam" yang murni, di mana akal yang sehat pasti akan sesuai dengan wahyu yang shahih dan membawa pemahaman yang shahih. (Abdul Malik Yurisfan)

---

Catatan

Tulisan ini berangkat dari hasil pertemuan pertama program "Kolektif Wakaf Nalar" bersama Ustadz Ferry Hidayat hafizhahullahu ta'ala.

Posting Komentar

0 Komentar