Jika kita telusuri secara jujur dan ilmiah, pengharaman madzhab justru lahir dari kesalahan memahami konteks ucapan ulama, mengaburkan perbedaan antara mujtahid dan orang awam, serta mengabaikan prinsip dasar yang ditegaskan Al Qur’an sendiri.
لَا تُقَلِّدْنِي وَلَا تُقَلِّدْ مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الْأَوْزَاعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا
“Jangan engkau bertaklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Syafi‘i, Awza‘i, dan Tsauri. Ambillah dari sumber yang mereka ambil.”
Ucapan ini sering dijadikan senjata untuk menyerang madzhab. Namun pertanyaan mendasarnya kepada siapa ucapan ini ditujukan? Maka dikatakan oleh Imam Asy Sya’rawi rahimahullah,
وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَنْ لَهُ قُدْرَةٌ عَلَى اسْتِنْبَاطِ الْأَحْكَامِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
“Ucapan ini ditujukan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menggali hukum dari Al Qur’an dan Sunnah.”
Beliau (Imam Ahmad rahimahullah) berbicara kepada murid-muridnya yang berilmu, para ahli hadits dan fiqh yang memiliki kapasitas ijtihad. Di antara mereka adalah Imam Abu Dawud, ‘Utsman bin Sa‘id, Ibrahim Al Harbi, Abu Bakr Al Atsram, Abu Zur‘ah, Abu Hatim As Sijistani, dan Imam Muslim, di mana ke semua mereka ini sudah masuk kategori seorang mujtahid besar. Ucapan itu tidak ditujukan kepada petani, tukang cendol hijrah, tukang es kepal hijrah, dan orang-orang awam, bukan!.
Dalam tradisi keilmuan Islam, seorang mujtahid memang tidak boleh bertaklid kepada mujtahid lain. Karena itu, larangan taklid dari seorang imam kepada muridnya yang mujtahid adalah bentuk tanggung jawab ilmiah, bukan larangan mutlak bagi seluruh umat. Adapun kita orang awwam ini kedudukannya sangat berbeda.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَاسْأَلُوا
أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43)
Ayat ini menjadi landasan utama kewajiban orang awam untuk merujuk kepada ulama (madzhab). Tidak ada satu pun ayat atau hadits shahih yang memerintahkan orang awam untuk berijtihad sendiri. Justru sebaliknya, Al Qur’an menutup pintu kesembronoan dalam beragama dengan mewajibkan bertanya kepada ahlinya.
Imam Ibn Qudamah Al Maqdisi rahimahullah, Imam Nawawi-nya di kalangan Hanabilah, menegaskan:
وَأَمَّا الْعَامِّيُّ فَلَا مَذْهَبَ لَهُ، وَمَذْهَبُهُ مَذْهَبُ مُفْتِيهِ
“Adapun orang awwam, ia tidak memiliki madzhab sendiri. Madzhabnya adalah madzhab muftinya.”
Penegasan dari Imam Ibn Qudamah rahimahullah di atas sejalan dengan yang disampaikan oleh Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah ketika menjawab pertanyaan mengenai mengikuti madzhab suatu negeri.
Beliau menjawab:
إِذَا كَانَ أَهْلُ الْبَلَدِ عَلَى مَذْهَبٍ صَحِيحٍ مِنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ، فَإِنَّهُ لَا يَشُذُّ عَنْهُمْ عَلَى مَذْهَبٍ صَحِيحٍ مِنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ، كَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَفِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَالْمَالِكِيَّة.
الْمَذَاهِبُ لَهَا أَثَرٌ سُنِّيَّةٌ مَدْرُوسَةٌ, فَلَا يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يَشُذُّ عَنْهُمْ، وَلَا يُشَوِّشُ عَلَيْهِمْ
“Apabila penduduk suatu negeri berada di atas suatu madzhab yang sahih dari madzhab-madzhab Ahlus Sunnah, maka tidak pantas seseorang menyelisihi mereka dengan madzhab sahih lain dari madzhab-madzhab Ahlus Sunnah, seperti madzhab Syafi‘i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki.
Madzhab-madzhab tersebut memiliki landasan Sunnah yang kuat dan telah dikaji secara mendalam. Karena itu, janganlah ia keluar dari barisan mereka, jangan menyelisihi mereka, dan jangan pula membuat kegaduhan di tengah mereka.”
Bila menjadi objektifitas setelah pembaca membaca penjelasan ini jelas bahwa mengharamkan madzhab atau menganjurkan seseorang untuk tidak bermadzhab bukan sikap, apalagi sikap salaf. Bermadzhab bagi orang awwam bukan bentuk pengkultusan terhadai aimmah, tetapi jalan aman untuk beragama sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah di atas pemahaman para ulama yang kompeten. Perkara tercela dari madzhab bukanlah bermadzhabnya, melainkan fanatisme buta, menolak adanya khilafiyah kalangan para aimmah yang jelas mereka juga berada di atas dalil yang benar.
Adapun orang-orang yang berkampanye kepada manusia untuk meninggalkan madzhab dengan narasi "kembali pada Quran dan Sunnah", maka ini bisa menyebabkan mereka yang awwam berfatwan dan berijtihad (berkesimpulan) sendiri. Sikap seperti ini selain menyelisi manhaj para ulama juga bisa menjadi sebab munculnya kekacauan dalam beragama.
Islam dibangun di atas ilmu, adab, dan ketertiban ilmiah, bukan di atas keberanian tanpa kapasitas. Wallahu a'lam

0 Komentar