Filsafat di Bawah Cahaya Tauhid

Tidak sedikit umat Islam di zaman ini yang mempertanyakan bahkan mencurigai para ulama Islam klasik yang mempelajari filsafat Yunani, hingga menerjemahkan karya-karya para filosof seperti Plato, Aristoteles, dan tokoh-tokoh pra-Sokratik. Kecurigaan ini biasanya berangkat dari anggapan bahwa filsafat adalah sumber kesesatan dan ancaman bagi kemurnian akidah Islam.

Anggapanini perlu diluruskan karena bersifat tuduhan, dan tidak mengedepankan prasangka baik terhadap para ulama terdahulu yang begitu banyak jasanya terhadap Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Tidaklah para ulama mempelajari filsafat Yunani dalam rangka menggantikan wahyu, apalagi menjadikannya sebagai sumber akidah. Filsafat diposisikan sebagai penambah tsaqafah (wawasan) dan alat bantu berpikir: melatih logika, menyusun klasifikasi konsep, serta merapikan argumen. Dengan kata lain, filsafat berfungsi sebagai instrumen metodologis, bukan fondasi keimanan.

Tradisi keilmuan Islam sejak awal sangat sadar akan pembedaan antara sumber kebenaran dan alat memahami kebenaran. Al Quran dan Sunnah tetap menjadi sumber utama, sementara akal harus dilatih melalui berbagai disiplin, dalam hal ini filsafat—berperan sebagai sarana memahami, menjelaskan, dan mempertahankan kebenaran tersebut.

Dalam konteks dakwah dan dialog intelektual, penguasaan filsafat menjadi sangat penting. Ketika para pemikir rasional mempertanyakan konsep ketuhanan, kaum Muslimin tidak cukup hanya menjawab dengan dalil naqli yang jelas tidak mereka akui otoritasnya. Diperlukan pendekatan rasional yang berbicara dalam bahasa intelektual mereka. Di sinilah filsafat menemukan fungsinya.

Sebagai contoh, pemikiran Xenophanes (570 SM), seorang filosof Yunani pra-Sokratik yang secara tegas mengkritik politeisme. Ia meyakini bahwa Causa Prima (sebab pertama dari segala sesuatu) pasti tunggal, tidak berbilang, tidak menyerupai ciptaan-Nya, tidak membutuhkan ruang, tidak bergantung pada apa pun, serta merupakan sumber segala kesempurnaan. Tuhan, menurutnya, tidak perlu menampakkan diri secara fisik untuk membuktikan eksistensi-Nya.

Meskipun Xenophanes bukan seorang nabi dan tidak berbicara dalam kerangka wahyu, pemikirannya menunjukkan bahwa akal sehat yang jujur dapat sampai pada kesimpulan yang sejalan dengan prinsip tauhid. Inilah mengapa para ulama tidak alergi terhadap pemikiran semacam ini, selama ia ditempatkan secara proporsional dan dikendalikan oleh kerangka akidah Islam.

Masalah muncul bukan pada filsafat itu sendiri, melainkan pada cara seseorang berinteraksi dengannya. Pada masa kini, memang tidak bisa dipungkiri sering kita jumpai fenomena orang-orang yang berbicara liar tentang Tuhan, bahkan sampai pada penolakan terhadap eksistensi-Nya. Ironisnya, tidak sedikit dari mereka berasal dari latar belakang pendidikan agama. Fenomena ini umumnya dapat ditelusuri pada dua kemungkinan.

Pertama, akidah yang tidak pernah benar-benar kokoh sejak awal. Ilmu agama dipelajari sebatas formalitas, tanpa internalisasi iman yang mendalam. Kedua, apa yang bisa disebut sebagai kegenitan intelektual: kegemaran bermain-main dengan ide dan keraguan demi sensasi intelektual, tanpa komitmen pada kebenaran.

Dalam sejarah Islam, filsafat tidak pernah dipelajari secara liar. Ia selalu berada dalam pagar akidah, adab, dan tanggung jawab ilmiah. Karena itu, alih-alih mencurigai filsafat secara membabi buta, yang lebih penting adalah memastikan fondasi iman terlebih dahulu, lalu menempatkan akal dan filsafat sebagai pelayan kebenaran, bukan penguasanya.

Di tangan ulama yang lurus, filsafat bukan ancaman bagi iman melainkan salah satu alat untuk menjaganya. (AMY)

Posting Komentar

0 Komentar