Merugi atau Beruntung, Itu Pilihan!


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-‘Ashr:

وَٱلۡعَصۡرِ
إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

Surat ini menggambarkan bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian dan kebinasaan, kecuali mereka yang:

  1. Beriman
  2. Beramal saleh
  3. Saling menasihati dalam kebenaran
  4. Saling menasihati dalam kesabaran

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Andaikan Allah hanya menurunkan surat ini kepada seluruh manusia, niscaya sudah cukup sebagai peringatan bagi mereka.”

Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya, apalagi jika Dia telah bersumpah. Dalam surah ini, Allah bersumpah dengan waktu, dan itu menunjukkan betapa pentingnya nilai waktu dalam hidup manusia.

1. Allah bersumpah dengan waktu Ashar

Ashar adalah waktu yang sangat utama. Mengapa? Karena ia menjadi penentu diterima atau tidaknya amal-amal kita sepanjang hari. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

مَن تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ
"Barangsiapa meninggalkan salat Ashar, maka terhapuslah seluruh amalannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa meruginya jika semua aktivitas harian kita tak bernilai pahala hanya karena kita melalaikan salat Ashar.

2. Allah bersumpah dengan waktu secara umum

Allah tidak bersumpah atas sesuatu kecuali terdapat pelajaran penting di dalamnya. Maka, renungkanlah: dengan apa kita mengisi waktu-waktu kita selama ini? Jika kita mengisinya dengan ketaatan, maka insyaAllah kita akan mendapatkan naungan dan pertolongan dari-Nya.

Lalu, bagaimana agar kita tidak menjadi orang yang merugi?

1. Beriman.

Iman adalah fondasi semua amal dan pintu keselamatan.

2. Beramal saleh.

Amal saleh memiliki dua syarat agar diterima:

  • Ikhlas, yaitu mengharap ridha Allah semata.
  • Mutaba’ah, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim)

Artinya, ibadah yang dilakukan dengan penuh semangat dan keikhlasan, tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Nabi, tetap tidak diterima oleh Allah.

3. Berdakwah (saling menasihati).

Jika umat Islam meninggalkan budaya saling menasihati dalam urusan agama, maka kehancuran akan menanti. Dakwah adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab sosial dalam menjaga umat dari kesesatan.

4. Bersikap benar dan sabar.

Kebenaran tidak selalu mudah diterima, maka diperlukan kesabaran dalam menyampaikannya.
Sabar terbagi menjadi tiga:

  • Sabar dalam menjalankan ketaatan
  • Sabar dalam menjauhi maksiat
  • Sabar dalam menghadapi musibah dan takdir yang tidak menyenangkan

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, yang memanfaatkan waktu untuk beriman, beramal saleh, berdakwah, dan bersabar, serta mendapatkan naungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar