Di era ini, fenomena rudud (Sanggah/Bantah) semakin menunjukkan kerusakan karena sering kali dibumbui dengan sentimen hizbiyah (fanatisme golongan). Kritik yang seharusnya dilakukan dengan penuh ukhuwah (persaudaraan) kini justru dipenuhi oleh sentimen kebencian dan permusuhan (‘adawah).
Padahal, dalam Islam, semangat argumentasi dan adu pendapat seharusnya dijaga dalam bingkai ukhuwah dan kasih sayang. Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan umat Islam untuk selalu menjunjung persaudaraan dan menghindari perselisihan yang membawa permusuhan. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini jelas mengingatkan kita bahwa ukhuwah Islamiyah adalah pondasi yang harus dijaga dalam setiap bentuk muamalah (interaksi), termasuk ketika berbeda pendapat. Perbedaan dalam memahami suatu masalah seharusnya tidak menyebabkan perseteruan, tetapi dijadikan peluang untuk saling belajar, memahami dan mengingatkan.
Tinggal caranya saja yang harus diperbaiki Allah mengingatkan dalam Surah An Nahl 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)
Ayat di atas begitu jelas menegaskan pentingnya menjaga akhlak dalam menyampaikan kritik. Kritik yang dilakukan dengan cara yang kasar dan penuh kebencian akan memperparah keadaan, bukannya mendekatkan seseorang pada kebenaran.
Teringat ucapan guru kami Al Ustadz Dr. Roy Grafika Penataran, MA hafizhahullah saat Syarah Kitab Kasyfu Syubhat:
"Saat membantah hendaknya perhatikan tutur kata kita, mimik wajah kita, tatapan mata kita. Jangan sampai cara kita yang buruk malah memposisikan diri menjadi partner bagi setan, yakni membuat manusia jauh dari kebenaran"
Inilah alasan saya membuat kesimpulan bahwa rudud di era ini sangat memprihatinkan. Sentimen hizbiyah dan permusuhan yang mengiringi kritik hanya akan memperdalam jurang perpecahan. Setiap umat Islam harus berusaha untuk mengedepankan ukhuwah dan hikmah dalam menyikapi perbedaan pendapat, sehingga perselisihan yang terjadi tidak berubah menjadi permusuhan. Wallahu a'lam

0 Komentar