KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT | SUPPORT DAKWAH BANGMALIK.COM DI BSI 1014658374 a.n AHMAD ABDUL MALIK |

"Jalani Saja Dulu": Gaya Pacaran "Syar'i" dan HTS Berkedok Ta'aruf

"Jalani saja dulu" sebuah ungkapan manis dan terkesan bijak yang keluar dari lisan lelaki atau perempuan yang haus akan perhatian. Sebuah ungkapan yang terkesai dewasa dan elegan ketika hendak memulai hubungan. Namun, kalau dipikirkan lebih jauh, sebenarnya kalimat itu bisa menjadi awal dari sebuah hubungan yang tidak jelas arahnya. Sebab, sebuah hubungan yang terus dijalani tanpa tujuan yang jelas sering kali hanya akan membuat salah satu pihak berharap, sementara pihak yang lain belum tentu memiliki keseriusan yang sama.

Bagi jomblowan dan jomblowati Muslim, persoalan seperti ini seharusnya menjadi perhatian. Jangan sampai kita tidak mau mengakui bahwa sedang berpacaran, tetapi semua aktivitas yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan orang pacaran. Chat setiap hari, telepon berjam-jam, saling memberi perhatian, saling merindu, saling cemburu, bahkan merasa memiliki satu sama lain. Namun, ketika ditanya, “Kita ini sebenarnya apa?” jawabannya hanya, “Jalani saja dulu.”

Inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kata “jalani saja dulu” menjadi pembenaran untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya tidak memiliki arah. Kedengarannya memang santai, dewasa, dan elegan. Tetapi dalam banyak keadaan kalimat itu bisa memiliki makna, “Aku belum mau serius, tetapi aku juga belum mau kehilangan kamu.” Dia belum tentu ingin berkomitmen, tetapi dia juga tidak ingin kehilangan perhatian yang selama ini diberikan kepadanya.

Akibatnya, salah satu pihak bisa menjadi orang yang paling banyak berharap, tetapi paling sedikit mendapatkan kepastian. Waktunya diberikan, perhatiannya dicurahkan, hatinya dijaga untuk seseorang, bahkan mungkin ia menolak orang lain karena merasa sudah memiliki hubungan. Namun, ketika meminta kejelasan, yang didapatkan tetap jawaban yang sama: “Jalani saja dulu.” Sampai kapan? Tidak tahu. Mau dibawa ke mana? Tidak tahu. Apa akhirnya? Juga tidak jelas.

Kaum jomblowan dan jomblowati Muslim harus berani bertanya kepada dirinya sendiri, hubungan seperti ini sebenarnya mau dibawa ke mana? Sebab, kita tidak seharusnya menjalani sesuatu hanya karena takut kehilangan seseorang. Kalau memang belum siap menikah, maka jujurlah belum siap. Kalau memang masih ingin mempersiapkan diri, silakan mempersiapkan diri. Tetapi jangan mengajak orang lain masuk ke dalam sebuah hubungan yang membuatnya berharap, sementara kita sendiri belum tahu apakah ingin melangkah bersamanya atau tidak.

Dan satu hal yang perlu diingat, buaya itu bukan hanya jantan. Buaya juga ada yang betina. Jangan merasa bahwa yang suka menggantung perasaan orang hanya laki-laki. Perempuan juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan pula menganggap bahwa hanya perempuan yang mudah terbawa perasaan. Laki-laki juga bisa berharap dan terluka. Yang satu menikmati perhatian, sementara yang lain menunggu kepastian. Yang satu menggantung, sementara yang lain terus bertahan. Maka persoalan ini bukan soal laki-laki atau perempuan, tetapi soal bagaimana seseorang memperlakukan hati orang lain.

Tidak Mau Disebut Pacaran, tetapi Aktivitasnya Pacaran

Ada fenomena yang cukup sering kita lihat sekarang. Sebagian anak muda seolah tidak mau disebut pacaran. Mereka mengatakan, “Kami cuma dekat,” atau “Kami cuma teman,” atau “Kami cuma saling mengenal.” Namun, coba lihat bagaimana aktivitasnya. Hampir setiap hari berkomunikasi, saling memberi perhatian khusus, merasa cemburu ketika salah satu dekat dengan orang lain, bahkan sudah saling merasa memiliki. Kalau semua itu sudah terjadi, lalu apa sebenarnya yang membedakannya dengan pacaran selain nama?

Kadang masalahnya bukan pada aktivitas yang berubah, tetapi hanya istilahnya yang diganti. Pacaran tetap pacaran, meskipun diberi nama yang lebih halus. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika hubungan seperti ini kemudian dibungkus dengan istilah ta’aruf. Padahal ta’aruf tidak seharusnya dijadikan tameng untuk membenarkan hubungan yang sebenarnya tidak memiliki batas dan arah yang jelas.

Ta’aruf adalah proses saling mengenal dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk mempertimbangkan pernikahan. Bukan hubungan tanpa status yang dijalani terus-menerus sambil menikmati perhatian satu sama lain. Bukan pula pacaran yang hanya diganti namanya agar terdengar lebih Islami. Kalau memang sedang mengenal untuk tujuan menikah, tentu harus ada kesadaran tentang batasan, keseriusan, dan arah hubungan tersebut.

Jangan sampai seseorang berkata, “Kita sedang ta’aruf,” tetapi praktiknya justru seperti orang yang sedang pacaran. Chat sampai larut malam, telepon berjam-jam, saling mengirim kata-kata romantis, saling cemburu, saling menuntut, tetapi tidak ada kejelasan mengenai masa depan. Ini bukan berarti semua proses mengenal lawan jenis harus langsung berujung pernikahan dalam waktu singkat, karena kondisi setiap orang tentu berbeda. Namun, pelan itu berbeda dengan berjalan tanpa arah.

Kalau Belum Siap, Jangan Menggantung Orang Lain

Tidak semua orang yang berkata “jalani saja dulu” adalah orang jahat. Bisa saja dia memang belum siap. Belum memiliki pekerjaan yang cukup, belum mampu menikah, masih memiliki tanggung jawab keluarga, atau memang sedang mempersiapkan dirinya. Semua itu bisa dimengerti. Tetapi persoalannya adalah, kalau memang belum siap, mengapa harus mempertahankan hubungan yang membuat orang lain semakin berharap?

Seseorang yang jujur tentang ketidaksiapannya tentu lebih baik daripada seseorang yang terus memberikan harapan tanpa kepastian. Tidak ada yang salah dengan berkata, “Aku belum siap.” Bahkan itu jauh lebih dewasa daripada mengajak seseorang terus menjalani hubungan yang kita sendiri tidak tahu akhirnya.

Jangan menjadikan seseorang sebagai tempat menyimpan perasaan sementara kita belum siap menentukan apa pun. Jangan menikmati perhatian seseorang, tetapi tidak mau bertanggung jawab terhadap perasaan yang tumbuh karena kedekatan itu. Jangan pula merasa berhak cemburu ketika dia dekat dengan orang lain, sementara kita sendiri tidak pernah memberikan kejelasan kepadanya.

Kalau memang membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri, gunakan waktu itu benar-benar untuk mempersiapkan diri. Jangan sambil meminta orang lain tetap berada di samping kita hanya agar kita tidak merasa kesepian. Sebab, manusia bukan tempat singgah yang bisa didatangi ketika hati sedang kosong dan ditinggalkan ketika sudah tidak membutuhkan.

Tiga Sikap Menghadapi “Jalani Saja Dulu”

Kalau kamu sedang berada dalam posisi seperti ini, kamu tidak perlu marah atau membuat keributan. Kamu juga tidak perlu memaksa seseorang untuk memberikan kepastian yang memang belum bisa dia berikan. Tetapi kamu berhak memiliki batas. Kamu berhak menjaga hati dan waktumu agar tidak habis untuk sebuah hubungan yang tidak memiliki kejelasan.

Pertama, kamu bisa mengatakan, “Aku gak terbiasa jalan tanpa arah. Jadi kalau kamu belum tahu mau ke mana, aku mundur dulu.” Kalimat ini bukan ancaman dan bukan juga bentuk kemarahan. Kamu hanya sedang menunjukkan bahwa kamu tidak ingin menjalani hubungan yang tidak jelas. Kalau dia memang belum tahu apa yang diinginkan, itu hak dia. Tetapi kamu juga memiliki hak untuk tidak ikut terseret ke dalam kebingungannya.

Kedua, kamu bisa mengatakan, “Aku ngerti kamu belum siap. Tapi aku juga gak punya waktu buat nunggu orang yang ragu.” Ini bukan berarti kamu merasa lebih baik atau ingin memaksa seseorang menikah denganmu. Kamu hanya sedang menghargai dirimu sendiri. Dia boleh belum siap, dia boleh membutuhkan waktu, tetapi kamu tidak wajib menunggu tanpa batas waktu dan tanpa kepastian.

Ketiga, kamu bisa mengatakan, “Aku gak masalah pelan, tapi aku gak mau jadi tempat singgah.” Ini adalah batas yang penting. Sebab, hubungan yang berjalan pelan tidak selalu buruk. Ada orang yang memang membutuhkan waktu untuk mempersiapkan dirinya. Namun, proses yang pelan tetap harus memiliki arah. Berbeda dengan hubungan yang hanya dipertahankan karena salah satu pihak tidak ingin kehilangan perhatian.

Keseriusan Tidak Selalu Berarti Harus Menikah Besok

Kita juga perlu bersikap adil. Jangan sampai tulisan seperti ini membuat kita berpikir bahwa setiap orang yang serius harus langsung menikah besok. Tidak demikian. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang harus menyelesaikan pendidikan, memperbaiki ekonomi, membantu orang tua, atau mempersiapkan banyak hal sebelum melangkah ke pernikahan.

Namun, orang yang serius biasanya tahu bahwa sebuah hubungan harus memiliki arah. Dia mungkin belum mampu menikah sekarang, tetapi dia tidak akan dengan sengaja menggantung orang lain. Dia bisa mengatakan dengan jujur bahwa dirinya sedang mempersiapkan sesuatu. Dia juga tidak akan menuntut seseorang untuk selalu menunggu sementara dirinya sendiri tidak pernah memberikan gambaran tentang apa yang sedang diperjuangkan.

Kalimat “Aku belum siap sekarang” jauh lebih jujur daripada “Jalani saja dulu,” kalau kalimat terakhir itu terus digunakan untuk menghindari kejelasan. Sebab, yang pertama menunjukkan seseorang memahami kondisi dirinya. Sementara yang kedua, kalau tidak pernah disertai arah dan langkah nyata, bisa menjadi cara untuk mempertahankan seseorang tanpa keberanian untuk bertanggung jawab.

Pemuda Muslim jangan hanya melihat bagaimana seseorang memperlakukanmu hari ini. Jangan hanya karena dia perhatian, kamu langsung menganggap dia serius. Jangan hanya karena dia selalu mencari kabarmu, kamu menganggap dia sedang mempersiapkan masa depan bersamamu. Perhatian belum tentu keseriusan. Kata-kata manis belum tentu niat yang sungguh-sungguh. Seseorang bisa membuatmu merasa spesial tanpa pernah menjadikanmu sebagai tujuan.

Jangan Sembunyi di Balik Kata Ta’aruf

Inilah yang penting untuk menjadi bahan muhasabah bagi pemuda Muslim. Jangan sampai kita menggunakan istilah agama hanya untuk membuat sesuatu yang sebenarnya keliru menjadi terlihat benar. Kalau aktivitasnya seperti pacaran, jangan merasa semuanya menjadi halal hanya karena kita menyebutnya ta’aruf.

Ta’aruf memiliki tujuan yang jelas. Ada kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan mahram harus menjaga batas. Ada proses untuk mengenal, tetapi bukan berarti bebas melakukan semua bentuk kedekatan yang biasanya dilakukan oleh orang pacaran. Jangan sampai istilah ta’aruf hanya menjadi nama baru untuk hubungan lama yang sebenarnya sama saja.

Kalau memang belum siap menikah, kadang yang terbaik adalah menjaga jarak sampai benar-benar siap. Tidak semua rasa harus segera dijadikan hubungan. Tidak semua ketertarikan harus dilanjutkan dengan komunikasi setiap hari. Tidak semua kecocokan harus membuat kita masuk ke dalam hubungan yang membuat hati semakin terikat.

Kadang yang paling dewasa bukan mempertahankan kedekatan, tetapi menjaga jarak. Sebab, semakin lama sebuah hubungan tanpa kejelasan dijalani, semakin besar pula perasaan yang tumbuh. Ketika akhirnya hubungan itu tidak memiliki masa depan, yang terluka bisa menjadi lebih dalam.

Jangan Takut Meninggalkan Hubungan yang Tidak Jelas

Banyak anak muda bertahan bukan karena hubungan itu baik, tetapi karena takut kehilangan. Takut tidak menemukan orang seperti dia. Takut sendirian. Takut memulai dari awal. Bahkan ada yang tetap bertahan meskipun sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan kejelasan.

Padahal, tidak semua yang kita inginkan harus kita pertahankan. Jangan sampai kita terlalu sibuk mempertahankan seseorang hingga lupa menjaga hati dan hubungan kita dengan Allah. Jangan sampai karena takut kehilangan manusia, kita rela melanggar batas-batas yang seharusnya kita jaga.

Kalau memang dia baik dan memang memiliki niat yang serius, insya Allah akan ada jalan yang baik. Kalau memang belum siap, maka biarkan dia mempersiapkan diri. Kalau memang tidak serius, jangan biarkan dirimu terus digantung. Dan kalau kamu menyadari bahwa selama ini kamu hanya dijadikan tempat singgah, maka belajarlah untuk pergi.

Pemuda Muslim harus belajar membedakan antara proses dan permainan perasaan. Pelan itu tidak masalah. Membutuhkan waktu juga tidak masalah. Tetapi hubungan yang tidak memiliki arah, tidak memiliki batas, dan hanya dijalani karena takut kehilangan, itulah yang perlu diwaspadai.

Jadi, ketika seseorang berkata, “Jalani saja dulu,” jangan langsung hanyut. Coba tanyakan kepada diri sendiri, sebenarnya mau dijalani ke mana? Kalau pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban, mungkin sebenarnya kamu sudah mendapatkan jawabannya.

Jangan sampai kita terjebak dalam pacaran semu. Jangan pula masuk ke dalam HTS yang dibungkus dengan istilah ta’aruf. Tidak mau disebut pacaran, tetapi aktivitasnya persis seperti orang pacaran. Mengaku sedang menjaga diri, tetapi hati sudah terikat dan batas-batas justru semakin dilanggar.

Jaga hatimu. Jaga waktumu. Dan jangan mudah memberikan perasaan kepada seseorang yang bahkan tidak tahu mau membawa hubungan itu ke mana. Karena hati manusia bukan tempat singgah. Dan hidupmu terlalu berharga untuk terus berjalan dalam sebuah hubungan yang tidak memiliki arah.

Posting Komentar

0 Komentar