Boleh mengusap kedua khuf dan sejenisnya dengan tujuh syarat:
1. Dipakai setelah thaharah sempurna dengan air.
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي مَسِيرةٍ، فَقَالَ: " أَمَعَكَ مَاءٌ؟ " قُلْتُ: نَعَمْ. فَنَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، ثُمَّ مَشَى حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فِي سَوَادِ اللَّيْلِ، ثُمَّ جَاءَ، فَأَفْرَغْتُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِدَاوَةِ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ، وَعَلَيْهِ جُبَّةُ صُوفٍ ضَيِّقَةُ الْكُمَّيْنِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُخْرِجَ ذِرَاعَيْهِ مِنْهَا، فَأَخْرَجَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ الْجُبَّةِ، فَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ أَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ، فَقَالَ: " دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ " فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا
Terjemahannya:
“Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Abi Za’idah, dari asy-Sya‘bi, dari ‘Urwah bin al-Mughirah, dari ayahnya, ia berkata:
Aku pernah bersama Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dalam suatu perjalanan pada suatu malam. Beliau bertanya, ‘Apakah engkau membawa air?’ Aku menjawab, ‘Ya.’
Kemudian beliau turun dari tunggangannya, lalu berjalan hingga beliau tidak terlihat olehku dalam gelapnya malam. Setelah itu beliau datang kembali, lalu aku menuangkan air dari wadah air kepada beliau. Beliau membasuh wajahnya. Ketika itu beliau mengenakan jubbah dari wol yang kedua lengannya sempit, sehingga beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengannya melalui bagian ujung lengan jubah tersebut. Maka beliau mengeluarkan kedua lengannya dari bagian bawah jubah, lalu membasuh kedua lengannya dan mengusap kepalanya.
Kemudian aku hendak melepaskan kedua khuf beliau, tetapi beliau bersabda:
‘Biarkan keduanya, karena sesungguhnya aku mengenakannya dalam keadaan suci.’
Lalu beliau mengusap kedua khuf tersebut.” (HR. Ahmad, No. 17196)
2. Menutup tempat yang wajib.
3. Memungkinkan untuk digunakan berjalan secara kebiasaan.
4. Kuat secara dzatnya.
5. Mubah.
6. Zatnya suci.
7. Tidak najis.
Batas mengusap khuf untuk orang yang mukim dan orang yang bermaksiat dengan safarnya, dimulai dari berhadats setelah memakainya, adalah satu hari satu malam. Batas mengusap khuf untuk orang safar yang membolehkan untuk mengqashar shalat dan tidak bermaksiat pada safarnya adalah tiga hari tiga malam.
مُحَمَّدٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو حَنِيفَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ نُبَاتَةَ الْجُعْفِيِّ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه، قَالَ: الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ لِلْمُقِيمِ يَوْمًا وَلَيْلَةً، وَلِلْمُسَافِرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِذَا لَبِسْتَهُمَا وَأَنْتَ طَاهِرٌ
Muhammad berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Hanifah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ibrahim, dari Hanzhalah bin Nubātah al-Ju‘fi, bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu berkata:
“Mengusap kedua khuf bagi orang mukim adalah sehari semalam, sedangkan bagi musafir adalah tiga hari beserta malam-malamnya, apabila ia mengenakan keduanya dalam keadaan suci.”
Adapun orang yang safar kemudian mukim, atau mukim kemudian safar, atau ragu kapan memulai pengusapan, maka dia tidak melebihi pengusapan khuf orang yang mukim.
Boleh mengusap jabirah (pembungkus luka) jika memakainya dalam keadaan suci dan tidak melampaui batas kadar kebutuhannya.
Dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْطَاكِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ خُرَيْقٍ، عَنْ عَطَاءٍ ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: «خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ، ثُمَّ احْتَلَمَ، فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ، فَقَالَ: هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ قَالُوا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ
"Telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Abdurrahman al-Anthaki, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah, dari az-Zubair bin Khuraiq, dari ‘Atha’, dari Jabir, ia berkata:
“Kami keluar dalam suatu perjalanan. Lalu seorang dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Kemudian ia mengalami ihtilam (mimpi basah). Ia pun bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian menemukan keringanan bagiku untuk bertayamum?’
Mereka menjawab, ‘Kami tidak menemukan keringanan untukmu, sementara engkau mampu menggunakan air.’
Maka ia pun mandi, kemudian meninggal dunia.
Ketika kami sampai kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, beliau diberitahu tentang kejadian tersebut. Beliau bersabda:
‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak mengetahui? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup baginya untuk bertayamum.’” (HR. Abu Dawud)
Jika melampaui batasnya atau memakainya dalam keadaan tidak suci, maka wajib melepaskannya. Jika khawatir terjadi mudharat, maka ia bertayamum disertai mengusap tempat lukanya sebatas kebutuhan.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik; usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6)
Jika tampak sebagian tempat pada anggota yang wajib, atau adanya sesuatu yang mewajibkan mandi, atau habis masa pengusapannya, batal pengusapan jabirahnya.
Source:
Kitab بداية العابد وكفاية الزاهد , Fiqh dasar dari madzhab Hanbali
0 Komentar