Salah
satu slogan yang paling sering kita dengar adalah, "Kembali kepada Al Quran
dan Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat." Kalimat ini bagus. Bahkan
setiap muslim yang memahami agama tentu tidak akan mengingkari kemuliaan
generasi sahabat. Mereka adalah generasi terbaik umat ini.
Namun,
persoalannya bukan pada slogannya. Persoalannya ada pada konsistensi ketika
slogan itu diterapkan.
Misalnya,
ketika muncul pembahasan tentang tahzir terhadap seorang muslim yang dianggap
ahlul bid'ah. Kita berharap dalil yang dibawakan adalah Al Quran, hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam,
atau atsar para sahabat yang secara jelas menunjukkan standar dan batasannya.
Akan
tetapi, yang sering terjadi justru sebaliknya. Yang dijadikan ukuran bukan lagi
nash atau atsar sahabat, melainkan fatwa atau penilaian seorang ulama
kontemporer (Syaikh Rabi' rahimahullah, dan semisalnya) . Bahkan, pendapat
ulama tersebut seolah menjadi standar yang harus diterima semua orang.
Di
sinilah muncul pertanyaan yang sederhana. Bukankah selama ini yang selalu
didengungkan adalah kembali kepada pemahaman sahabat?
Kalau
memang demikian, mengapa ketika menentukan siapa yang layak ditahzir justru
harus mengikuti penilaian seorang ulama setelah empat belas abad berlalu?
Kalau
boleh merujuk kepada ulama kontemporer, tentu tidak ada masalah. Umat Islam
sejak dahulu memang mengambil faedah dari para ulama. Tidak ada yang
mengingkari hal itu.
Tetapi
kalau satu kelompok diberi kebebasan memilih ulama rujukan, sementara kelompok
lain dianggap sesat hanya karena mengikuti ulama yang berbeda, maka
persoalannya bukan lagi tentang ittiba' kepada dalil.
Persoalannya
sudah bergeser menjadi loyalitas kepada tokoh. Lebih aneh lagi, ketika
seseorang mengutip ulama yang mereka hormati, itu disebut mengikuti manhaj.
Tetapi ketika orang lain mengutip ulama yang berbeda, langsung dicap sebagai
fanatik, hizbi, atau penyimpang.
Kalau
ukurannya memang Al Quran, Sunnah, dan pemahaman sahabat, semestinya semua
pihak kembali kepada ukuran itu. Bukan kepada nama-nama tertentu.
Sebab
para sahabat tidak pernah mengajarkan agar agama diukur dari siapa yang
mengucapkannya. Mereka mengajarkan agar setiap pendapat ditimbang dengan dalil.
Pada
akhirnya, yangHalperlu
dikoreksi bukan slogan "kembali kepada pemahaman sahabat". Slogan itu
benar.
Yang
perlu dikoreksi adalah ketika slogan tersebut dalam praktiknya berubah menjadi,
"Ikutilah Al Quran dan Sunnah sebagaimana dipahami oleh ulama yang kami
pilih."
Kalau
sudah sampai pada titik itu, yang sedang dipertahankan bukan lagi kemurnian
ajaran Islam, melainkan otoritas kelompok.
Padahal agama ini lebih besar daripada tokoh mana pun. Tidak ada seorang ulama, sehebat apa pun ilmunya, yang perkataannya menjadi ukuran mutlak benar atau salah selain Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Abdul
Malik Yurisfan

0 Komentar