KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT |

Islam dan Hakikat Realitas

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa metafisika merupakan cabang filsafat yang berusaha menjawab berbagai pertanyaan mendasar tentang realitas. Apa yang sebenarnya ada? Mengapa sesuatu ada? Bagaimana hubungan antara alam dengan Penciptanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sejak lama menjadi bahan pemikiran para filosof.

Plato mencoba menjawabnya melalui dunia ide. Aristoteles menawarkan jalan yang berbeda melalui pembahasan tentang substansi, bentuk, materi, dan sebab-akibat. Setelah itu lahir berbagai pemikiran lain yang berkembang dari kedua tokoh tersebut. Sebagian diterima, sebagian dikritik, dan sebagian lagi ditinggalkan.

Dalam pembahasan sebelumnya juga telah dijelaskan bahwa banyak ulama Islam memberikan catatan terhadap bangunan metafisika para filosof. Bukan karena mereka anti terhadap akal atau anti terhadap pemikiran, tetapi karena ada beberapa kesimpulan yang dianggap terlalu jauh dari apa yang dapat diketahui manusia.

Dari sinilah muncul pertanyaan yang penting. Jika sebagian konsep metafisika Yunani menyimpan banyak persoalan, lalu bagaimana Islam memandang realitas?

Pertama-tama, Islam mengajarkan bahwa realitas yang paling hakiki adalah Allah Ta'ala. Adapun alam semesta adalah ciptaan-Nya. Langit, bumi, gunung, lautan, manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh isi alam ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Semuanya bergantung kepada Allah yang menciptakan, mengatur, dan memeliharanya.

Karena itu, alam bukan ilusi. Alam juga bukan bagian dari Tuhan. Alam adalah ciptaan yang nyata. Kita bisa melihatnya, mempelajarinya, dan mengambil pelajaran darinya. Namun pada saat yang sama, kita juga menyadari bahwa keberadaannya tidak lepas dari kehendak Allah.

Cara pandang seperti ini membuat seorang Muslim dapat menghargai realitas sebagaimana adanya. Ketika melihat pohon, ia tidak perlu membayangkan adanya "pohon sempurna" yang hidup di alam lain. Ketika melihat manusia, ia tidak perlu mencari "manusia ideal" yang berada di luar dunia nyata.

Yang ada di hadapan kita adalah manusia-manusia yang nyata. Ada yang tinggi, ada yang pendek. Ada yang kuat, ada yang lemah. Ada yang saleh, ada yang fasik. Demikian pula dengan pohon, hewan, dan berbagai benda lainnya.

Lalu bagaimana dengan berbagai istilah umum seperti manusia, pohon, atau keadilan? Istilah-istilah itu tetap penting. Sebab manusia memang membutuhkan cara untuk mengelompokkan berbagai hal yang memiliki kesamaan. Ketika kita melihat banyak pohon, akal kemudian menyebut semuanya sebagai "pohon". Ketika melihat banyak perbuatan yang baik dan lurus, akal kemudian mengenalnya sebagai "keadilan".

Dengan demikian, istilah-istilah umum membantu manusia memahami dunia di sekitarnya. Namun tidak berarti istilah-istilah tersebut harus dianggap sebagai makhluk atau realitas tersendiri yang hidup di luar alam nyata.

Pembahasan berikutnya adalah tentang sebab dan akibat

Dalam kehidupan sehari-hari kita terbiasa mengatakan bahwa api membakar kayu, air menghilangkan dahaga, dan obat membantu menyembuhkan penyakit. Tidak ada yang salah dengan ungkapan seperti itu. Bahkan semua orang menyaksikannya setiap hari.

Namun Islam mengajarkan bahwa semua itu terjadi karena Allah menghendakinya terjadi demikian. Api tidak bekerja sendiri. Air tidak bekerja sendiri. Obat juga tidak bekerja sendiri. Semuanya berjalan sesuai ketentuan yang Allah tetapkan pada alam semesta.

Karena itulah seorang Muslim dapat menerima adanya mukjizat tanpa merasa bingung. Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api. Nabi Musa membelah lautan dengan izin Allah. Nabi Isa menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah. Semua itu menunjukkan bahwa Allah adalah Penguasa alam semesta. Hukum-hukum alam berjalan karena Allah menghendakinya berjalan, bukan karena alam memiliki kekuasaan di atas kehendak-Nya.

Sering kali sebuah pendapat dibangun di atas pendapat lain, lalu di atasnya dibangun lagi pendapat berikutnya. Lama-kelamaan pembahasannya semakin jauh dari apa yang dapat disaksikan manusia dan semakin jauh pula dari petunjuk wahyu.

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan agar manusia tidak terlalu jauh tenggelam dalam dugaan-dugaan yang tidak memiliki landasan yang jelas. Sepanjang sejarah filsafat, banyak pemikir berbicara tentang berbagai hal yang berada di balik alam. Sebagian pembahasannya bermanfaat dan membantu memperluas cara pandang. Namun tidak sedikit pula yang akhirnya berubah menjadi perdebatan panjang tanpa ujung.

Sering kali sebuah pendapat dibangun di atas pendapat lain, lalu di atasnya dibangun lagi pendapat berikutnya. Lama-kelamaan pembahasannya semakin jauh dari apa yang dapat disaksikan manusia dan semakin jauh pula dari petunjuk wahyu.

Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar akal digunakan sesuai tempatnya. Akal adalah nikmat yang sangat besar. Dengan akal manusia dapat belajar, berpikir, meneliti, dan memahami banyak hal. Akan tetapi, akal tetaplah akal. Ia memiliki batas sebagaimana mata memiliki batas dalam melihat dan telinga memiliki batas dalam mendengar. Jangan sampai kita menerima keterbatasn mata dan telinga tapi tidak mau menerima bahwa akal (logika) juga memiliki keterbatasan.

Pada akhirnya, pembahasan tentang realitas bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Pembahasan ini seharusnya membuat manusia semakin mengenal dirinya, semakin memahami alam yang ditempatinya, dan semakin menyadari kebesaran Allah yang menciptakan semuanya.

Karena itu, ketika berbicara tentang hakikat realitas, seorang Muslim tidak hanya bertanya tentang bagaimana alam bekerja. Ia juga bertanya siapa yang menciptakan alam tersebut, siapa yang mengaturnya, dan kepada siapa seluruh makhluk akan kembali.

Dari sanalah perjalanan berpikir kita menemukan arah yang benar. Bukan sekadar memahami alam, tetapi juga mengenal Rabb yang menciptakan alam.

Source: 
Program Kolektif Wakaf Nalar

Penyusun:
Abdul Malik Yurisfan

Posting Komentar

0 Komentar