KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT | SUPPORT DAKWAH BANGMALIK.COM DI BSI 1014658374 a.n AHMAD ABDUL MALIK |

Taubat: Antara Penyesalan dan Tangisan

Ada masa ketika seseorang sedang beribadah di tempat suci, berada di depan Ka'bah, menyelesaikan thawaf, sa'i, lalu tahallul, tetapi hatinya merasa biasa saja. Tidak menangis. Tidak merasakan getaran seperti yang selama ini ia bayangkan. Tidak ada air mata yang jatuh ketika melihat Ka'bah. Tidak ada tangisan panjang ketika berdoa. Bahkan mungkin ketika mengingat dosa-dosanya pun, matanya tetap kering.

Lalu di situlah terkadang setan mulai bekerja. Ia membisikkan kalimat yang sangat berbahaya: “Allah memang sudah tidak lagi peduli denganku. Makanya hatiku mengeras. Makanya aku tidak bisa menangis. Lihat orang lain, mereka menangis. Mereka tersentuh. Mereka merasa dekat dengan Allah. Sedangkan Aku? Hatiku bahkan tidak bergerak.”

Bisikan seperti ini kalau terus diikuti bisa membawa seseorang kepada kesesatan. Sebab pada akhirnya, orang tersebut mulai menilai dirinya bukan berdasarkan kebenaran, tetapi berdasarkan perasaannya. Ia mulai berpikir bahwa air mata adalah bukti Allah masih sayang kepadanya, dan keringnya mata adalah bukti bahwa Allah sudah meninggalkannya.

Padahal, siapa yang mengatakan demikian?

Apakah tidak menangis berarti Allah tidak menerima taubat seseorang? Apakah mata yang kering otomatis menunjukkan hati yang keras? Apakah semua orang yang menangis berarti pasti ikhlas? Dan apakah semua orang yang tidak menangis berarti tidak punya penyesalan?

Tidak sesederhana itu!

Setan kadang tidak perlu mengajak seseorang untuk langsung meninggalkan agama. Cukup rusak cara berpikirnya tentang Allah. Cukup bisikkan bahwa Allah sudah tidak peduli kepadanya. Cukup tanamkan perasaan bahwa dirinya sudah terlalu jauh dari rahmat Allah. Kemudian orang itu mulai putus asa.

Ia pulang dari Tanah Suci dengan membawa sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibawa pulang. Yakni, kekecewaan kepada Allah.

Bahkan ada kisah yang sangat menyedihkan, seseorang sampai memberikan kesaksian murtad setelah pulang dari umrah. Salah satu pintu masuknya adalah perasaan.

Ia datang dengan harapan akan mendapatkan pengalaman spiritual tertentu. Berharap menangis di depan Ka'bah, berharap hatinya bergetar, berharap mendapatkan perasaan yang luar biasa. Tetapi ketika semua itu tidak terjadi seperti bayangannya, ia merasa Allah tidak menerima dirinya.

Padahal, kita ini sedang beribadah kepada Allah, bukan sedang mengejar sebuah perasaan.

Tidak semua orang menangis ketika berdoa. Tidak semua orang merasakan hal yang sama ketika berada di depan Ka'bah. Bahkan dua orang yang berdiri berdampingan, menghadap tempat yang sama, berdoa kepada Allah yang sama, bisa memiliki keadaan hati yang sangat berbeda.

Ada yang menangis deras, tetapi kita tidak tahu apa yang ada di balik air matanya. Ada yang matanya kering, tetapi dalam dadanya ada penyesalan yang mungkin tidak mampu ia ungkapkan dengan tangisan.

Ada pula orang yang menangis hari ini, tetapi besok kembali kepada dosanya. Dan ada orang yang tidak menangis, tetapi setelah pulang justru benar-benar meninggalkan dosa yang selama ini ia lakukan.

Lalu mana yang lebih dekat kepada taubat?

Bukankah yang paling tahu hanya Allah?

Karena itu, jangan menjadikan air mata sebagai satu-satunya ukuran. Kalau kita sedang berada di Tanah Suci, terutama setelah tahallul, perbanyaklah duduk di depan Ka'bah. Duduk saja. Tidak harus selalu memaksakan diri untuk menangis. Tidak perlu sibuk memperhatikan orang lain yang sedang menangis di sekeliling. Tidak perlu merasa gagal hanya karena mata kita kering.

Duduklah.

Tafakurlah.

Ingat semua dosa, ingat berapa banyak nikmat Allah yang kita balas dengan kemaksiatan. Ingat berapa banyak kesempatan yang Allah berikan, tetapi kita sia-siakan. Ingat berapa kali kita berjanji akan berubah, tetapi kembali lagi kepada dosa yang sama.

Kemudian mintalah ampun kepada Allah.

Kalau keluar air mata, alhamdulillah. Kalau tidak keluar, jangan dipaksa.

Yang lebih penting, tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar ingin meninggalkan dosa itu? Apakah kita benar-benar menyesal? Apakah kita benar-benar ingin kembali kepada Allah? 

Karena syarat taubat diterima bukan dilihat dari menangis atau tidaknya seseorang.

Tangisan bisa menjadi tanda kelembutan hati, iya. Tangisan bisa menjadi nikmat yang Allah berikan, iya. Tetapi air mata bukan satu-satunya bukti bahwa seseorang sedang bertaubat dengan benar. Yang menjadi persoalan adalah keikhlasan hati. Kesungguhan untuk meninggalkan dosa. Penyesalan atas apa yang telah dilakukan. Dan tekad untuk tidak kembali lagi.

Jangan sampai setan berhasil menjadikan sesuatu yang sebenarnya baik menjadi pintu keputusasaan.

Kita tidak menangis, lalu kita merasa Allah tidak peduli. Kita tidak merasakan getaran tertentu, lalu kita merasa ibadah ini sia-sia. Kita tidak mendapatkan pengalaman seperti cerita orang lain, lalu kita merasa Allah meninggalkan kita.

Jangan.

Allah tidak pernah menyuruh kita membuktikan taubat dengan air mata. Yang Allah lihat adalah hati.

Maka ketika kita berada di depan Ka'bah, jangan sibuk mencari tangisan. Jangan sibuk mengejar perasaan. Jangan sibuk membandingkan pengalaman kita dengan orang lain.

Datanglah kepada Allah dengan apa adanya. Dengan dosa-dosakita. Dengan penyesalan kita. Dengan hati yang mungkin masih berantakan. Dengan mata yang mungkin masih kering.

Tetapi jangan pernah datang dengan putus asa.

Sebab selama kita masih mau kembali kepada Allah, jangan biarkan setan membisikkan bahwa Allah sudah tidak peduli kepada kita. Tergeraknya kita berdo'a lalu bertaubat kepada Allah itu sudah bukti Allah peduli kepada kita.

Posting Komentar

0 Komentar