Seringkali terjadi kesalahpahaman dalam mendefinisikan apa itu Salafi atau mengikuti jalan Salafus Shalih. Secara prinsip, menjadi seorang Salafi berarti kita berkomitmen untuk mengikuti pemahaman generasi terbaik umat ini. Yakni para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in di dalam pilar-pilar fundamental agama, yaitu Aqidah dan Ibadah. Kita meyakini bahwa pemahaman mereka terhadap wahyu adalah yang paling murni dan paling dekat dengan maksud Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.Namun, penting untuk menarik garis tegas antara Manhaj dan Muamalah (urusan sosial-politik) yang bersifat insidental. Mengikuti Salaf bukan berarti menganggap mereka sebagai sosok yang maksum atau terbebas dari kesalahan manusiawi. Kita mengambil ilmu mereka dalam bertauhid, namun kita juga bersikap proporsional terhadap sejarah konflik yang pernah terjadi di antara mereka.
Realitas Kemanusiaan dalam Sejarah
Adapun perkara muamalah atau perselisihan di antara para pendahulu yang terekam dalam sejarah, kita tidak wajib mengikutinya secara membabi buta. Sebaliknya, hal tersebut harus diambil sebagai pelajaran berharga bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak luput dari dinamika sosial dan perbedaan ijtihad. Jika kita menilik lembaran sejarah, kita akan menemukan peristiwa-peristiwa besar yang menguras emosi, seperti:
1. Konflik Internal Sahabat:
Peristiwa antara Imam Ali bin radhiyallahu 'anhu dengan Bunda Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Perang Jamal, atau perselisihan Imam Ali radhiyallahu 'anhu dengan Mu'awiyah dalam Perang Siffin.
2. Luka Sejarah:
Adanya riwayat mengenai kemarahan dan doa laknat Bunda Aisyah terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash serta pihak-pihak yang terlibat dalam kematian saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar, yang saat itu terjebak dalam pusaran fitnah pasca-terbunuhnya Utsman bin Affan.
3. Tragedi Karbala:
Perlawanan Imam Husain terhadap kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah serta peran kelam Ubaydillah bin Ziyad.
4. Dan peristiwa lainnya.
Semua peristiwa di atas adalah bagian dari sejarah yang kompleks. Mengakui adanya konflik ini tidak lantas meruntuhkan kredibilitas mereka sebagai rujukan dalam beragama.
Salafiyyin mengambil kalam (perkataan) para pendahulu dalam perkara aqidah yang bersifat mutlak dan ibadah yang bersifat tauqifi. Sedangkan urusan muamalah, pilihan politik, dan konflik di antara mereka adalah murni urusan ijtihad personal.
Menjawab Argumen Anti-Salafi
Maka, terasa sangat rancu dan tidak relevan apabila pihak-pihak yang kontra terhadap dakwah Salafiyyah mencoba menyerang kredibilitas manhaj ini dengan menggunakan narasi konflik sejarah. Mengaitkan kegagalan politik atau pertikaian fisik di masa lalu dengan validitas aqidah yang diusung oleh Salafiyyin adalah sebuah kekeliruan logika (logical fallacy).
Sejak awal, prinsip yang harus ditegaskan adalah: Salafiyyin mengambil kalam (perkataan) para pendahulu dalam perkara aqidah yang bersifat mutlak dan ibadah yang bersifat tauqifi. Sedangkan urusan muamalah, pilihan politik, dan konflik di antara mereka adalah murni urusan ijtihad personal. Dalam kaidah ushul fiqh, seorang mujtahid jika benar mendapat dua pahala, dan jika salah tetap mendapat satu pahala. Kesalahan dalam membuat keputusan (ijtihad) tidak serta-merta menghapus kemuliaan ilmu dan kedudukan mereka di sisi Allah.
Sebagai penutup dari alfaqir, mengikuti Salafus Shalih adalah upaya untuk menjaga agar agama ini tetap berada di atas relnya yang asli. Kita menghormati mereka sebagai guru-guru besar umat manusia, namun tetap meyakini bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Dengan memahami batasan ini, kita bisa berislam dengan jernih. Mengambil yang suci dari aqidah mereka, dan mengambil pelajaran dari dinamika kemanusiaan mereka.

0 Komentar