Ketika Simbol Mendahului Ilmu

Sekarang ini, hijrah sering kali terlihat sederhana. Pake sorban, pake jubah, kutip satu dua ayat, ditambah skill public speaking yang lumayan, lalu hidup di Indonesia yang mayoritas muslim, auto dapat gelar “ustadz”. Padahal, urusan ilmu dan amanah dakwah tidak sesederhana itu.

Masalahnya bukan di sorban atau jubahnya. Pakaian tidak pernah salah apalagi itu perkara Sunnah (Fi'liyah), yang jadi soal adalah ketika tampilan dianggap cukup untuk bicara apa saja atas nama agama. Di titik ini, kadang terlihat orang sudah berani bicara soal apa pun, tapi masih kesulitan membedakan mana wilayah aqidah, mana wilayah muamalah.

Semua seolah dicampur jadi satu, yang prinsip dianggap fleksibel, yang seharusnya dijaga malah dinegosiasikan. Dengan dalih toleransi, kebhinekaan, atau hidup berdampingan, seorang muslim yang membranding dirinya sebagai ustadz justru ikut menyemarakkan perayaan Natal. Seakan-akan aqidah itu urusan ringan yang bisa disesuaikan dengan suasana.

Padahal, toleransi tidak pernah berarti meleburkan keyakinan. Hidup rukun itu soal adab sosial, bukan ikut masuk ke dalam ritual atau simbol agama lain. Ini bukan soal benci atau tidak benci, tapi soal tahu batas.

Ironisnya, semua ini dilakukan oleh figur yang tampil sebagai panutan. Yang ucapannya didengar, ditirukan, bahkan dijadikan rujukan. Bukan karena niatnya selalu buruk, tapi karena semangat tampil sering kali lebih besar daripada kehati-hatian dalam berilmu.

Hijrah sejatinya bukan sekadar berubah tampilan, apalagi mengejar panggung. Hijrah adalah proses belajar memahami agama dengan pelan, dengan batas, dan dengan rasa takut salah. Karena tidak semua yang terlihat Islami, benar-benar paham di mana garis aqidah harus dijaga.

Posting Komentar

0 Komentar