KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT |

Islam, Filsafat dan Metafisika

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa filsafat memiliki manfaat dalam membantu seorang da’i memahami berbagai persoalan pemikiran. Kemudian pada pembahasan setelahnya juga telah dijelaskan bahwa logika perlu diasah agar seseorang mampu berpikir lebih runut dan tidak mudah tertipu oleh kerancuan berpikir. Namun, pada saat yang sama, logika juga memiliki batas dan tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal dalam memahami seluruh realitas. Dari sinilah pembahasan metafisika mulai muncul.

Jika logika berbicara tentang cara berpikir, maka metafisika mulai masuk ke pembahasan tentang hakikat terdalam dari realitas. Aristoteles dalam buku Physics dan Metaphysics membahas persoalan tentang gerak, perubahan, waktu, sebab, substansi, materi, bentuk, hingga “penggerak pertama” yang tidak berubah.

Oleh karena itu, metafisika sebenarnya bukan sekadar lamunan kosong sebagaimana yang sering dibayangkan sebagian orang. Ia lahir dari usaha manusia memahami apa yang ada di balik alam yang terlihat. Mengapa sesuatu berubah? Apa sebab pertama dari segala sesuatu? Apakah ada realitas yang tetap di balik perubahan alam? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sejak lama dipikirkan manusia.

Menariknya, pembahasan metafisika ternyata tidak hanya muncul di Yunani. Namun juga ada di berbagai bangsa yang juga memiliki corak metafisika masing-masing. Filosof Afrika, misalnya, membahas persoalan alam, sebab, dan relasi manusia dengan realitas ghaib dalam tradisi pemikiran Afrika. Filosof Aztec di Amerika Latin membahas alam semesta sebagai dunia yang terus bergerak dan berubah. Filosof Cina membahas metafisika dalam kerangka harmoni dan keterhubungan realitas. Begitu pula para resi India yang sejak lama menulis pembahasan tentang hakikat realitas dan keberadaan.

Artinya, pembahasan metafisika memang hampir selalu muncul dalam berbagai peradaban manusia. Sebab manusia memang memiliki kecenderungan untuk memikirkan sesuatu yang berada di balik alam fisik yang tampak.

Dalam tradisi Islam sendiri, pembahasan metafisika juga memiliki ruang. Al-Quran berkali-kali mengajak manusia memperhatikan realitas yang tidak sekadar kasat mata. Ketika Allah menyebut bahwa langit, bumi, gunung, dan burung semuanya bertasbih kepada-Nya (QS. 17:44), maka ayat-ayat seperti ini melahirkan renungan tentang alam semesta yang hidup dalam tasbih kepada Allah.

Begitu pula kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr dalam Surat Al-Kahfi (60-82). Secara lahiriah, tindakan Nabi Khidr tampak aneh dan sulit dipahami. Perahu dilubangi, seorang anak dibunuh, dan dinding ditegakkan tanpa meminta upah. Namun, ada hikmah besar yang tidak langsung terlihat di balik semua itu. Dari sini kemudian lahirlah pembahasan tentang hikmah Ilahi dan kebijaksanaan Allah di balik takdir yang tampaknya buruk di mata manusia.

Karena itulah banyak filosof Muslim mulai menyusun pembahasan metafisika mereka sendiri. Ketika karya Metaphysics Aristoteles diterjemahkan ke bahasa Arab, istilah-istilah metafisika Yunani mulai masuk ke dunia Islam. Kata seperti “mawjud” dan “wujud” yang sebelumnya bukan istilah penting dalam bahasa Arab, perlahan menjadi kosakata utama dalam filsafat Islam.

Al-Kindi mulai menggunakannya dalam Fi Al-Falsafah Al-Ula. Al-Farabi memakainya dalam Kitab Al-Jam‘u Bayna Ra’yay Al-Ḥakimayn. Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd pun ikut menggunakannya dalam karya-karya metafisika mereka. Setelah itu, istilah “wujud” semakin populer dalam dunia intelektual Islam, bahkan masuk ke pembahasan akidah dan tasawuf.

Di sinilah kemudian muncul berbagai pembahasan metafisika yang semakin luas, termasuk pembahasan tentang wahdatu al-wujud. Sebagian tokoh sufi-filosof menggunakan konsep ini untuk menjelaskan hubungan antara keberadaan makhluk dengan keberadaan Allah. Karena pembahasannya sangat njlimet yang rawan disalahpahami, maka sejak awal hadirnya konsep ini sudah menuai banyak kritik dari para ulama.

Sa'duddin Al-Taftazani menulis bantahan terhadap pemikiran Ibnu Arabi. Ali Al-Qari juga menulis kritik terhadap konsep tersebut. Begitu pula Ibnu Taimiyah yang secara khusus membantah berbagai bentuk penyimpangan metafisika yang menurut beliau bertentangan dengan nash syariat.

Bahkan kritik Ibnu Taimiyyah terhadap filsafat tidak berhenti pada waḥdatu al-wujud saja. Dalam Al-Radd ‘ala Al-Manṭiqiyyin, beliau juga mengkritik dasar-dasar logika dan metafisika Yunani yang terlalu mengandalkan abstraksi akal. Menurut beliau, banyak konsep metafisika filosof lahir dari permainan istilah dan asumsi rasional yang jauh dari realitas serta bimbingan wahyu. Karena itu, beliau berusaha mengembalikan pembahasan ilmu kepada fitrah, nash, dan pemahaman yang lebih dekat dengan realitas manusia.

Dari sini terlihat bahwa metafisika memang melahirkan banyak perdebatan panjang. Karena metafisika adalah hasil olah pikir manusia. Maka kritik-mengkritik di dalamnya menjadi sesuatu yang wajar. Aristoteles dikritik oleh filosof setelahnya. Ibnu Sina dikritik oleh Al-Ghazali dan Al-Syahrastani dalah Tahafut Al Falasifah. Kritik Al-Ghazali lalu dibalas lagi oleh Ibnu Rusyd dalam Tahafut Al-Tahafut.

Karena itu, seorang da’i perlu memahami pembahasan ini secara proporsional. Jangan anti terhadap seluruh pembahasan filsafat, sebab sebagian pembahasannya memang bisa membantu memperluas cara pandang dan melatih kedalaman berpikir. Tetapi jangan pula semua istilah filsafat diterima begitu saja hanya karena terdengar rumit dan mendalam.

Akhirnya, sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, akal tetap membutuhkan bimbingan wahyu dan fitrah yang lurus. Sebab, ketika manusia terlalu tenggelam dalam abstraksi pikirannya sendiri, sering kali ia justru semakin jauh dari kebenaran yang sangat mudah untuk difahami. [Abdul Malik Yurisfan]

Source:
Program Kelas Mengenal Filsafat (KWN)

Posting Komentar

0 Komentar