Syi’ah dan Zionisme sama-sama problematik, tetapi level ancamannya tidak selalu identik di setiap keadaan. Dalam kondisi tertentu, Zionisme tampil lebih merusak; pada situasi lain, Syi’ah bisa menjadi ancaman yang lebih serius. Karena itu, respons kita pun harus kontekstual—tidak seragam dan tidak serampangan.
Bersikap kokoh dalam akidah bukan berarti kehilangan kejernihan dalam membaca realitas politik. Menolak penyimpangan Syi’ah tetap bisa berjalan beriringan dengan sikap objektif terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kita konsisten mengecam siapa pun yang mencela keluarga Nabi shalallahu 'alayhi wasallam. Namun konsistensi itu tidak meniscayakan hilangnya empati kepada warga sipil Iran yang menjadi korban serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Mengatakan bahwa Iran mengalami ketidakadilan bukan berarti mengadopsi akidah Syi’ah, bukan pula membenarkan ajarannya, dan sama sekali tidak identik dengan menutup mata terhadap dampak negatifnya bagi Ahlus Sunnah di berbagai wilayah.
Berhentilah melihat dunia dalam kerangka hitam-putih yang sempit. Sejak kapan perbedaan teologis menghapus sensitivitas kemanusiaan? Ketegasan prinsip tidak bertentangan dengan kejernihan nurani.
Kita dapat tetap tegas menyatakan penyimpangan Syi’ah dalam ranah akidah, sembari tetap berduka atas anak-anak Iran yang menjadi korban pengeboman oleh Amerika Serikat dan Israel.
Membenci sebuah penyimpangan tidak pernah menjadi alasan untuk berlaku tidak adil. Keadilan melampaui batas agama dan sekat sektarian. Kezaliman tetaplah kezaliman, tanpa melihat siapa pelakunya dan siapa yang menderita karenanya.
0 Komentar