Teror Psiko-Reliji, Ketika Dalil Menjadi Alat Mengancam Pasangan

    

Dalam sebagian rumah tangga, agama tidak lagi hadir sebagai sumber ketenangan, melainkan berubah menjadi alat tekanan. Salah satu bentuknya adalah kebiasaan mengancam pasangan dengan kalimat seperti, “Aku akan menuntutmu di akhirat”, setiap kali terjadi konflik. Fenomena ini dapat disebut sebagai teror psiko-reliji, yakni penggunaan bahasa agama untuk menimbulkan rasa takut, tunduk, dan bersalah secara psikologis.

    Islam tidak pernah menempatkan akhirat sebagai alat ancaman domestik. Relasi suami-istri dibangun atas dasar amanah, kasih sayang, dan keadilan, bukan intimidasi spiritual. Allah Ta‘ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut.”v(QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga harus diwujudkan melalui akhlak dan kebaikan, bukan melalui ketakutan.

Memang benar bahwa dalam Islam setiap kezaliman akan dihisab, sebagaimana firman Allah:

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

“Kemudian pada hari Kiamat kalian akan saling menuntut di hadapan Tuhan kalian.” (QS. Az-Zumar: 31)

    Namun ayat ini adalah peringatan moral, bukan alat ancaman relasional. Menggunakannya untuk menekan pasangan justru merupakan penyimpangan dari tujuan syariat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

    Ancaman spiritual yang diulang-ulang dalam konflik bukanlah bentuk nasihat, melainkan termasuk menyakiti dengan lisan, yang dalam Islam tergolong kezaliman. Dan kaidah fikih menyatakan:

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Kemudaratan harus dihilangkan.”

    Karena itu, rumah tangga yang dipenuhi teror psiko-reliji, di mana agama dijadikan senjata, adalah rumah tangga yang telah kehilangan tujuan dasarnya. Islam tidak memerintahkan bertahan dalam relasi yang merusak jiwa dan mental, melainkan mengajarkan keadilan, keselamatan, dan jalan keluar yang bermartabat. (Abdul Malik Yurisfan)

Posting Komentar

0 Komentar