Menghakimi Niat: Penyakit yang Disangka Iman

 

    Dalam khazanah akhlak Islam, pembahasan tentang riya’, 'ujub, dan sum’ah bukanlah tema ringan. Ia menyentuh wilayah paling sensitif dalam diri manusia, yakni niat dan hati. Karena itulah para ulama menempatkan pembahasan ini sebagai ilmu untuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), bukan alat untuk menghakimi orang lain. Sayangnya, di era media sosial, tema ini sering bergeser fungsinya, dari cermin untuk bercermin, menjadi palu untuk memukul sesama.

    Di antara kasusnya adalah mudahnya kaum muslimin setiap melihat unggahan kegiatan positif saudaranya selalu dianggap riya' atau sum'ah (pamer). Padahal, sejak awal Islam telah meletakkan kaidah yang sangat tegas: manusia tidak dibebani untuk menakar niat orang lain, melainkan diwajibkan untuk menjaga dan membersihkan niat dirinya sendiri.

Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Penyakit Hati yang Bersifat Internal

    Riya’ adalah melakukan amal dengan tujuan dilihat manusia. Ujub adalah kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri. Sum’ah adalah mencari popularitas melalui penyebaran amal. Mempelajari ketiga penyakit hati adalah untuk mengawasi hati (niat) sendiri, bukan untuk mengawasi hati (niat) orang lain.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

    Hadits ini adalah pondasi penting bagi kaum muslimin, bahwa ukuran nilai amal itu pada hati, bukan pada apa yang terlihat dan dipublikasikan di sosial media. Maka ketika seseorang melihat orang lain menampilkan amal atau aktivitas positif, lalu spontan melabelinya sebagai pamer, di situlah bahaya besar bermula.

    Apa bahaya itu? bahaya itu bernama prasangka (dzhan), satu kondisi hati di mana bila prasangka itu benar, maka tidak mendapatkan pahala. Sementara bila prasangka itu salah, sudah pasti mendapatkan dosa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al Hujurat:12)

    Begitu jelas Allah mengatakan di dalam ayat ini prasangka sebagian dari dosa, apalagi jika prasangka itu diarahkan pada wilayah niat, sesuatu yang sama sekali tidak terlihat oleh mata manusia.

Ketika Prasangka Mengalahkan Keadilan

    Dalam kaidah syariat, terdapat prinsip penting al ashlu bara’atudz dzimmah (الأصل براءة الذمة) hukum asal seseorang adalah bersih hingga terbukti sebaliknya. Maka jika seseorang menampakkan amal kebaikan, ada dua kemungkinan niat:

1. Ia benar-benar riya' atau sum'ah (pamer).

2. Ia sedang tahadduts binni’mah (menceritakan nikmat Allah) atau syiar kebaikan.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. Adh Dhuha:11)

    Ini dalil yang menjadi landasan bolehnya seseorang menampakkan nikmat Allah, termasuk nikmat amal, selama niatnya adalah syukur, motivasi, atau syiar. Jika ternyata niatnya riya’ atau sum'ah, itu dosa dia, dan kita tidak memikul apa pun. Namun jika ternyata niatnya adalah tahadduts binni’mah, sementara kita menuduhnya pamer, maka dosa prasangka itu kembali kepada kita. Di sinilah letak bahaya yang sering luput disadari. Dia menikmati karunia Allah, dan mendapatkan pahala dari syiarnya, sementara kita menanggung dosa prasangka.

Husnuzan: Jalan Keselamatan Hati

    Islam tidak menuntut kita menjadi naif, tetapi memerintahkan kita untuk memperluas husnudzhan. Ketika melihat seseorang membagikan aktivitas positif, latih diri untuk berkata dalam hati: mungkin ia sedang syiar, mungkin ia sedang bersyukur, mungkin ia ingin menginspirasi, atau mendoakan agar Allah meridhoinya.

    Niat orang lain bukan wilayah tanggung jawab kita. Yang akan ditanya di hadapan Allah kelak adalah apa yang ada di hati kita, bukan apa yang kita duga ada di hati orang lain.

Imam Ali radhiyallahu 'anhu berkata:

“Janganlah engkau mengira buruk terhadap satu ucapan yang keluar dari saudaramu, sementara engkau masih bisa menemukan kemungkinan baik baginya.”

Ini bukan sekadar adab sosial, melainkan strategi menyelamatkan diri dari dosa yang tidak perlu.

 Kontemplasi

    Salah satu jebakan paling halus adalah memproyeksikan niat diri kepada orang lain. Ketika seseorang berkata, “Kalau posting begitu pasti pamer,” bisa jadi yang sedang bicara sedang melakukan pengakuan tidak sadar tentang dirinya sendiri.

    Islam mengajarkan kerendahan hati, jangan anggap semua orang memiliki niat serendah yang kita bayangkan. Justru orang yang paling takut riya’ dan sum'ah adalah orang yang paling sibuk mengoreksi dirinya, bukan mengawasi amal orang lain.

    Terakhir, janganlah kita merugikan diri kita sendiri. Apapun yang bukan menjadi urusan kita, apalagi itu menyangkut hati, janganlah masuk ke dalamnya, daripada kerugian menimpa kita.

(Abdul Malik Yurisfa)

Posting Komentar

0 Komentar