KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT | SUPPORT DAKWAH BANGMALIK.COM DI BSI 1014658374 a.n AHMAD ABDUL MALIK |

Xenophanes dan Konsep Ketuhanan dalam Islam

Xenophanes, seorang filsuf Yunani dari Kolophon (570–478 SM) yang hidup jauh sebelum kelahiran Rasulullah shollallahu 'alayhi wasallam dikenal dengan kritiknya terhadap pandangan mitologis tradisional tentang para dewa. 

Dalam pandangan umumnya masyarakat Yunani kuno, dewa-dewa digambarkan sangat mirip dengan manusia, baik dalam penampilan fisik maupun sifat-sifat mereka yang sering kali menunjukkan kelemahan, di mana dewa-dewa memiliki sifat buruk yang identik dengan manusia seperti iri hati, amarah, dan konspirasi, dan hal ini memang jelas tergambar dalam film/cerita tentang dewa-dewa Yunani yang penuh dengan konflik. Xenophanes menilai pandangan ini tidak masuk akal, karena Tuhan yang sejati seharusnya bebas dari kekurangan dan sifat manusiawi yang rendah.

Xenophanes kemudian memperkenalkan konsep tentang satu Tuhan (monoteis) yang berbeda secara mendasar dari manusia. Menurutnya, Tuhan tidak menyerupai makhluk hidup, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik (moral). Dia menyatakan bahwa Tuhan itu kekal, tidak berubah, dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat material. 

Tuhan juga digambarkan sebagai entitas yang Maha Kuasa, yang mampu menggerakkan segala sesuatu hanya melalui pikiran-Nya, tanpa perlu bertindak secara fisik. Konsep Tuhan yang transenden ini menandai pergeseran dari pandangan politeistik Yunani menuju gagasan monoteisme.

Jika kita membandingkan pandangan Xenophanes dengan konsep ketuhanan dalam Islam, kita dapat melihat beberapa korelasi yang mendasar. Dalam Islam, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan hal ini ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, misalnya:

Pertama, Allah tidak menyerupai ciptaan-Nya dalam bentuk apa pun:

"لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ"

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy Syuro: 11)

Kedua, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan tidak bergantung kepada siapa pun:

"قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ"

"Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.'" (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Dalam kedua ayat ini, dijelaskan dengan sangat jelas bahwa Allah tidak memiliki keserupaan dengan makhluk-Nya, tidak menyerupai manusia baik secara fisik maupun sifat. Konsep ini sejalan dengan gagasan Xenophanes tentang Tuhan yang berbeda secara total dari manusia, baik dalam wujud maupun tindakan.

Dengan demikian, Xenophanes dan konsep ketuhanan dalam Islam memiliki kesamaan dalam menolak antropomorfisme (pemahaman bahwa Tuhan memiliki bentuk dan sifat seperti manusia).

Melihat semua konsep ketuhanan yang digambarkan oleh Xenophanes dalam beberapa fragmen yang ditemukan, tidak salah jika ada yang berpendapat bahwa dia adalah salah satu dari 124.000 nabi yang disampaikan oleh Rasulullah shollallahu 'alayhi wasallam. Who knows? Wallahu A'lam. (FB Ahmad Abdul Malik, 4 Oktober 2024)

Posting Komentar

0 Komentar