KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT | SUPPORT DAKWAH BANGMALIK.COM DI BSI 1014658374 a.n AHMAD ABDUL MALIK |

Ngebet Menikah, Sudah Siap Menjadi Istri dan Ibu?

Belakangan ini, saya cukup sering menemukan konten atau caption perempuan berniqab yang arahnya seolah-olah ingin menyampaikan satu hal: ingin segera menikah. Ada yang menyampaikannya secara terang-terangan, ada pula yang menggunakan kalimat sindiran, kode-kode romantis, atau ungkapan kerinduan terhadap sosok imam dalam kehidupan rumah tangga.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keinginan menikah. Menikah adalah perkara mulia. Memiliki pasangan, membangun rumah tangga, dan mengharapkan keturunan merupakan bagian dari fitrah manusia.

Tetapi, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak diajukan: Kenapa sih ngebet banget pengen nikah?

Apakah sudah benar-benar memahami apa yang akan dihadapi setelah pernikahan? Apakah yang selama ini dibayangkan hanya indahnya memiliki pasangan, mendapatkan perhatian, ada yang menemani, dan merasakan romantisme kehidupan rumah tangga?

Coba sesekali jangan terlalu sibuk memikirkan kapan ada laki-laki yang datang melamar. Jangan terlalu sibuk membuat caption tentang kerinduan terhadap pernikahan. Sebaliknya, coba tanyakan kepada diri sendiri.

Pertama, apakah aku sudah layak menjadi seorang istri?

Istri yang bukan hanya siap menerima nafkah, mendapatkan perhatian, dan memperoleh perlindungan, tetapi juga siap menjalankan kewajibannya. Memahami makna thā'ah dan qana'ah dalam kehidupan rumah tangga. Memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang mendapatkan hak, tetapi juga tentang kesediaan menunaikan kewajiban.

Kedua, apakah aku sudah layak menjadi seorang ibu?

Nah, pertanyaan kedua ini sepertinya jauh lebih penting untuk direnungkan.

Sebab, menjadi ibu bukan sekadar perkara mengandung, melahirkan, menyusui, kemudian membesarkan anak. Ada tanggung jawab pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan biologis dan fisik seorang anak.

Ibu memang sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun, jangan lupa bahwa ayah juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak.

Di antara hak anak adalah mendapatkan ayah dan ibu yang baik. Orang tua yang bukan hanya mampu memberikan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sanggup memberikan pendidikan, keteladanan, serta membimbing perkembangan akal dan kepribadian mereka.

Lalu, seperti apa orang tua yang baik?

Baik di sini bukan hanya soal penampilan, bukan pula sekadar rajin menghadiri kajian, pandai mengutip dalil, atau memiliki identitas keagamaan tertentu.

Baik itu juga harus smart!

Memiliki wawasan, kecerdasan berpikir, kedewasaan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan kesanggupan mendidik anak sesuai dengan tantangan zamannya.

Sebab, anak-anak kita kelak tidak hanya membutuhkan orang tua yang bisa mengajarkan mereka membaca Al-Qur'an, tetapi juga orang tua yang mampu mendampingi mereka menghadapi kehidupan. Mereka akan tumbuh di tengah perkembangan teknologi, derasnya informasi, berbagai pemikiran, dan persoalan yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang kita hadapi hari ini.

Bagaimana mungkin kita berharap memiliki anak-anak yang cerdas, berwawasan luas, kuat akidahnya, dan baik akhlaknya, sementara orang tuanya sendiri tidak memiliki kesungguhan untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas diri?

Jangan sampai terlalu sibuk mencari calon suami yang saleh, tetapi lupa mempersiapkan diri menjadi istri yang baik. Terlalu sibuk mencari calon ayah yang bertanggung jawab, tetapi tidak pernah serius memikirkan kesiapan menjadi seorang ibu.

Pernikahan bukan perlombaan siapa yang paling cepat mendapatkan pasangan. Memiliki anak juga bukan sekadar pencapaian setelah seseorang menikah.

Kalau urusannya hanya menikah, punya anak, kemudian membesarkannya sekadar sampai bisa makan dan berjalan, hewan pun bisa melakukannya.

Manusia memiliki akal, tanggung jawab, dan amanah pendidikan. Ada generasi yang harus dipersiapkan, ada akidah yang harus dijaga, ada akhlak yang harus dibentuk, dan ada masa depan yang harus diarahkan.

Maka, tidak perlu malu memiliki keinginan untuk menikah. Tidak ada yang salah dengan merindukan seorang pasangan. Tetapi, jangan sampai keinginan untuk segera menikah jauh lebih besar daripada kesadaran tentang tanggung jawab yang menanti setelah pernikahan.

Sebelum terlalu sibuk mencari seseorang yang siap menikahimu, coba tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri: sudahkah aku mempersiapkan diri untuk menjadi istri yang baik dan ibu yang mampu melahirkan generasi berkualitas?

Posting Komentar

0 Komentar