KETIKA ILMU DITOLAK KARENA FANATISME, SAAT ITULAH KEJUMUDAN MEMBUKA PINTU LEBAR BAGI KEMUNDURAN | KEDISIPLINAN DALAM ISLAM BUKAN SEKADAR ATURAN, TETAPI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH DALAM SETIAP ASPEK KEHIDUPAN | PERSELISIHAN DI KALANGAN DAKWAH TAUHID KARENA MASIH ADANYA KETIDAKIKHLASAN DAN ADANYA KEPENTINGAN DUNIA | KEJUMUDAN UMAT ADALAH BENTUK KEMUNDURAN UMAT |

Selamat Dunia & Akhirat

Alhamdulillah, kita saat ini berada di tahun 1448 H. Zaman yang penuh dengan berbagai fitnah; fitnah syahwat, fitnah harta, fitnah jabatan, fitnah media sosial, fitnah pemikiran, hingga fitnah yang mengaburkan antara yang hak dan yang batil.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh hidup tanpa arah. Ia harus memiliki visi yang jelas, yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah mengajarkan doa yang sangat agung:

> رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."

(QS. Al-Baqarah: 201)



Doa ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang hanya memikirkan akhirat semata, dan bukan pula agama yang hanya mengejar dunia. Seorang muslim harus sukses dunia dan sukses akhirat.


---

1. Seorang Muslim Harus Memiliki Jiwa Visioner

Allah Ta'ala berfirman:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kalian kerjakan."

(QS. Al-Hasyr: 18)



Kata لِغَدٍ (untuk hari esok) mengandung makna yang luas.

Hari esok ada dua:

1. Hari esok di dunia

Apa yang kita siapkan untuk kehidupan kita, keluarga kita, pendidikan anak-anak kita, dakwah kita, dan masa depan umat.

2. Hari esok di akhirat

Apa yang kita siapkan untuk alam kubur, hari kebangkitan, hisab, mizan, shirath, dan surga Allah.

Mukmin yang cerdas adalah yang mempersiapkan keduanya.


---

2. Meningkatkan Etos Kerja sebagai Ibadah

Islam tidak mengajarkan kemalasan.

Allah berfirman:

> هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kalian dibangkitkan."

(QS. Al-Mulk: 15)



Allah juga berfirman:

> وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia."

(QS. Al-Qashash: 77)



Seorang muslim diperintahkan bekerja, berdagang, bertani, berusaha, dan mencari nafkah.

Namun ada satu syarat penting:

Luruskan niat

Ketika bekerja diniatkan untuk:

Menunaikan kewajiban nafkah.

Menjaga diri dari meminta-minta.

Membantu keluarga.

Mendukung dakwah.

Menolong kaum muslimin.


Maka pekerjaan dunia berubah menjadi ibadah.

Gaji menjadi bonus dunia.

Sedangkan pahala menjadi bonus akhirat.


---

Keutamaan Orang yang Lelah Karena Bekerja

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah memegang tangan seorang sahabat yang kasar karena bekerja.

Lalu beliau bersabda:

> هَذِهِ يَدٌ لَا تَمَسُّهَا النَّارُ

"Ini adalah tangan yang tidak akan disentuh api neraka."



(HR. Ath-Thabrani, dihasankan sebagian ulama)

Maknanya menunjukkan kemuliaan orang yang bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal.


---

3. Bahaya Bekerja Hanya untuk Dunia

Allah memperingatkan:

> مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

"Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan."

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Dan sia-sialah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. Hud: 15–16)



Ayat ini mengajarkan bahwa dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai menjadi tujuan utama.

Jika seseorang bekerja hanya demi dunia, maka mungkin ia mendapatkan dunia yang diinginkannya. Namun di akhirat tidak mendapatkan bagian apa pun dari amal tersebut.

Karena itu, niatkan setiap aktivitas dunia sebagai ibadah kepada Allah.


---

4. Meningkatkan Etos Ibadah

Selain semangat bekerja, seorang mukmin juga harus semangat beribadah.

Karena hakikat hidup adalah beribadah kepada Allah.

Allah berfirman:

> وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

(QS. Adz-Dzariyat: 56)




---

Ibadah Wajib Harus Dijaga

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:

> وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya."

(HR. Al-Bukhari)



Maka fokus pertama seorang muslim adalah menjaga:

Shalat lima waktu.

Puasa Ramadhan.

Zakat bagi yang wajib.

Haji bagi yang mampu.



---

Ibadah Sunnah Sesuai Kemampuan

Allah berfirman:

> فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian."

(QS. At-Taghabun: 16)



Tidak semua orang mampu melakukan ibadah sunnah yang sama.

Ada yang kuat:

Qiyamul lail.

Puasa Senin-Kamis.

Sedekah.

Membaca Al-Qur'an.

Menuntut ilmu.

Berdakwah.


Pilih amalan yang mampu dijaga secara istiqamah.

Karena Rasulullah ﷺ bersabda:

> أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)




---

5. Menjauhi Larangan Allah dan Rasul-Nya

Keselamatan dari fitnah tidak cukup dengan banyak ibadah.

Harus dibarengi dengan meninggalkan maksiat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ

"Apabila aku memerintahkan kalian suatu perkara, kerjakanlah semampu kalian. Dan apabila aku melarang kalian dari suatu perkara, maka tinggalkanlah."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)



Perhatikan bahwa Nabi ﷺ mengatakan:

Perintah: kerjakan semampunya.

Larangan: tinggalkan seluruhnya.


Ini menunjukkan pentingnya menjauhi dosa sebagai benteng dari fitnah akhir zaman.


---

Penutup

Agar selamat dari fitnah dunia di akhir zaman, seorang muslim harus memiliki visi yang jelas:

1. Memiliki orientasi dunia dan akhirat

Dengan doa:

> رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ



2. Meningkatkan etos kerja

Dengan niat ibadah sehingga menghasilkan gaji di dunia dan pahala di akhirat.

3. Meningkatkan etos ibadah

Menjaga yang wajib dan memperbanyak sunnah sesuai kemampuan.

4. Menjauhi seluruh larangan Allah dan Rasul-Nya

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mempersiapkan "hari esok" di dunia dan "hari esok" yang lebih panjang, yaitu kehidupan akhirat.

اللهم آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

"Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar